Keutamaan Basmallah

Basmallah atau kalimat Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim pertama kali ditulis dalam pembuka surat yang dikirimkan oleh Nabi Sulaiman as., kepada Ratu Biliqis yang memimpin Kerajaan Saba’. Kalimat basmallah, memiliki arti, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.” Seluruh surat dalam Al Qur’an diawali dengan kalimat basmallah, kecuali Surat Baraah atau Surat At Taubah. Sehingga, dalam sejarah penulisan mushaf atau buku Al Qur’an di masa Khalifah Abu Bakar ra., kalimat ini selalu ditulis di awal seluruh surat, kecuali At Taubah.[1]

Ada beberapa keterangan yang menjelaskan proses turunnya kalimat Basmallah dan Surat Al Fatihah. Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Surat Al Fatihah turun di Makkah dari perbendaharaan di bawah ‘Arsy (singgasana Allah).” Sahabat Ibnu Abbas ra., berkata, “Nabi SAW berdiri di Makkah, lalu beliau membaca, ‘Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.’ Lalu orang orang Quraisy mengatakan,’Semoga Allah menghancurkan mulutmu.”

Sahabat Abu Hurairah ra., berkata, “Rasulullah SAW. bersabda saat Ubay bin Ka’ab membacakan Ummul Al Qur’an kepada beliau, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, Allah tidak menurunkan semisal surat ini di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al Qur’an. Sesungguhnya surat ini adalah as Sab’ul Mastsani (Tujuh Kalimat Pujian) dan Al Qur’an Al Azhim yang diberikan kepadaku.”[2]

Buya Hamka, dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan, ketika Nabi Sulaiman as. menuliskan kalimat Basmallah sebagai pembuka surat kepada Ratu Bilqis, beliau menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang nabi utusan Allah. Kalimat Basmallah di awal, berarti permulaan segala pekerjaan, untuk menyiarkan wahyu Ilahi kepada insan, diatas nama Allah itu sendiri, yang telah memerintahkan aku (Nabi Sulaiman as.) menyampaikannya.  Inilah sebuah teladan dari Nabi kepada kita, supaya memulai sebuah pekerjaan penting dengan nama Allah.

Nabi Muhammad SAW mendapatkan tugas menyampaikan wahyu atas nama Allah. Beliau SAW adalah seorang manusia biasa, tetapi ucapan yang keluar dari mulutnya bukan semata atas kehendak sendiri. Allah-lah yang memerintahkan, dan dari Allah-lah jugalah Nabi SAW mengambil kekuatan untuk berdakwah. 1

Allah adalah Dzat Yang Mahatinggi, Mahamulia dan Mahakuasa. Dia adalah yang wajibul wujud, yang sudah pasti ada, yang mustahil tidak ada. Secara bahasa, kata “Allah” adalah sebuah bentuk tunggal, dengan arti Yang Maha Esa. Pada dasarnya, kaum Quraisy yang musyrik telah mengenal Keesaan Allah. Hal ini dibuktikan, ketika Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Siapa yang menjadikan semua ini ?” Mereka (kaum musyirikin) akan menjawab, “Allah-lah yang menciptakan semuanya!” 1.

Pada dasarnya, kaum musyrik Quraisy telah mengenal Tauhid Uluhiyah. Mereka tidak akan memakai kata “Allah” selain untuk menyebutkan Dzat Yang Maha Esa, Yang Tunggal, yang berdiri sendiri-Nya. Dan mereka tidak akan menyebutkan kata “Allah” kepada ratusan berhala yang mereka sembah. Kalimat Basmallah, membangkitkan kesadaran kaum Quraisy untuk bertauhid secara penuh. Mengakui hanya ada satu Allah yang menciptakan alam dan Allah Yang Satu itu sajalah, yang patut disembah tidak ada yang lain.1

Setelah menyebut nama Allah, maka diiringi dengan menyebut sifat-Nya, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua nama sifat itu, berasal dari satu rumpun arti yang sama, yaitu rahmat, yang berarti murah, kasih sayang, cinta, santun dan perlindungan. Mengapa dua sifat ini, disebut terlebih dahulu dalam Al Qur’an dibandingkan dengan sifat-sifat Allah yang lain ?

Karena dalam peradaban primitif (jahiliyah), manusia menggambarkan Tuhan sebagai sesuatu yang amat ditakuti, atau menakutkan, seram, dan kejam. Sehingga orang harus berkurban dengan berbagai sembelihan, sebab Tuhan itu dianggap haus darah. Dalam bayangan umat jahiliyah, Tuhan memiliki bentuk yang seram, matanya melotot, taringnya panjang, yang akan murka, jika manusia tidak berkurban kepadanya.1

Nabi Muhammad SAW menentukan perumusan baru dan benar tentang Allah, dengan kedua sifat-Nya Yang Rahman dan Rahim. Kedua sifat inilah yang harus diketahui terlebih dahulu oleh semua manusia. Bahwa Allah adalah Rahman dan Rahim. Dalam kalimat basmallah, terdapat seruan kepada manusia, bahwa Allah itu Pemurah dan Penyayang, bukan Pembenci dan Pendendam, bukan haus pada darah pengurbanan.1

Allah memiliki kasih yang luas dan besar yang meliputi segala sesuatu, dan menyentuh seluruh hidup, yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang mengikuti Nabi-Nabi-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan mendapatkan kasih yang mutlak, sedangkan orang-orang selain mereka hanya mendapatkan sebagian dari kasih itu.[3]

Membaca basmallah di awal setiap pekerjaan, berarti menghadirkan Allah dalam setiap dimensi pekerjaan.3 Di dalam bacaan basmallah, terdapat sebuah pengharapan atau do’a agar segala sesuatu yang dikerjakan mendapatkan karunia Rahman dan Rahim dari Allah.1 Kata “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” berinduk pada satu kata, yaitu “rahmat”. Kata “Ar-Rahman” berarti Yang Rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk terkait rezeki, dan kebutuhan mereka, baik dirinya mukmin atau kafir. Sedangkan kata “Ar-Rahim” berarti Yang Rahmat-Nya khusus bagi orang mukmin.3

Wallahu ‘alam bi shawab.

[1] Tafsir Al Azhar.

[2] Tadabbur Al Qur’an

[3] Tafsir As Sa’di

 

Baca juga :

Makna Hamdallah

One thought on “Keutamaan Basmallah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *