On Demand Media

Perkembangan internet, perlahan namun pasti, menggerus pola bisnis media massa. Internet yang semakin meluas penggunaannya, terbukti mampu menggusur eksistensi media cetak, seperti koran, majalah dan buletin. Saat ini, media massa berbasis elektronik, khususnya situs dan portal berita di internet-lah, yang menjadi rujukan dan sumber informasi.

Internet juga berdampak pada konten atau isi informasi yang disajikan oleh media massa. Media massa tradisional, sifatnya satu arah. Artinya, pembacanya “pasrah” dan “menuruti” saja kemauan jajaran redaksi. Di masa lalu, seorang pelanggan, hanya bisa membaca rangkaian berita yang sudah disajikan oleh tim redaktur. Bisa jadi, ada seorang pelanggan yang penggila sepakbola. Tetapi, karena jajaran redaksi memilih untuk fokus memberitakan hasil pertandingan sepak takraw, maka, sang pelanggan tersebut, harus rela, jika dalam edisi tersebut, tidak ada pembahasan mengenai sepak bola.

Hadirnya mesin pencari di internet, membuat pola konsumsi masyarakat terhadap berita, menjadi berubah. Saat ini, dengan perangkat komputer atau telepon pintar, publik memiliki kuasa penuh, untuk mencari berita, yang sesuai dengan minatnya. Misalnya, seorang penggemar otomotif bisa dengan leluasa berselancar di dunia maya, untuk memenuhi wawasannya seputar perkembangan mesin mobil atau desain motor terbaru.

Internet menyediakan gudang informasi kepada pemakainya. Tak heran kiranya, jika pelaku bisnis media massa, harus mampu menyediakan aneka ragam informasi. Inilah yang menyebabkan bisnis media cetak menjadi meredup. Menyediakan aneka ragam informasi berarti mempertebal jumlah halaman, yang berpengaruh ke harga jual. Di sisi lain, jika harga jual diturunkan, akan berimbas pada kedalaman berita yang disajikan, atau memangkas genre informasi yang ditampilkan dalam tiap edisinya. Inilah buah simalakama yang memaksa beberapa perusahaan media cetak, akhirnya gulung tikar.

Internet juga mengubah pola bisnis siaran televisi dan radio. Keduanya adalah media massa yang menyiarkan berita dan informasi yang sifatnya terjadwal. Internet dan hadirnya situs berbagi video, mengubah paradigma jam siaran berita. Saat ini, untuk menikmati program televisi atau radio, orang tidak perlu menyediakan waktu khusus dan menyesuaikan dengan jam siaran. Kehadiran situs berbagi video, membuat orang bisa mengakses tayangan berita pagi di kala siang. Atau menonton siaran ulang berita malam, di waktu pagi.

Dan, kemungkinan besar, bisnis bioskop juga harus berhadapan dengan munculnya situs film. Bisnis internet yang bersanding dengan tekhnologi digital, membuat penikmat film, bisa berubah halauan. Saat ini, perkembangan perangkat audio visual, membuat film bisa dinikmati di layar televisi rumah dengan kualitas nyaris setara dengan bioskop. Penikmat sinema, tak perlu pergi ke mall atau gedung bioskop, antri tiket, dan menyesuaikan dengan jam tayang untuk menyaksikan film. Ia cukup berlangganan situs film di internet, mengunduhnya dan memutarnya di perangkat televisi yang ada di rumah.

Pola on demand menjadikan bisnis media harus cepat berevolusi. Saat ini, internet menjadikan masyarakat sebagai Raja. Jika sebuah perusahaan media tidak cepat mengantisipasi, bisa saja bisnis mereka gugur dan tinggal nama. Stasiun televisi yang masih berkutat dengan penyajian program informasi terjadwal, akan tergerus dengan situs berbagi video. Selain itu, dari sisi konten dan isi, redaksi tidak lagi jumawa, menyajikan informasi sesuai dengan fokus mereka. Karena masyarakat, hanya mau mengonsumsi berita sesuai dengan minat mereka. Jika informasi yang mereka inginkan tidak terdapat di media A, maka akan dengan cepatnya beralih ke media B, dan begitu seterusnya.

Pola konsumsi masyarakat terhadap berita dan informasi, akhirnya berimbas pada kondisi keuangan media massa. Jamak diketahui, bisnis media mengutamakan pendapatan dari spot iklan. Khususnya media massa elektronik yang disiarkan secara terrestrial dan tidak berbayar. Saat ini, sebuah stasiun televisi atau radio, tidak hanya bersaing merebut iklan dari sesama stasiun. Tetapi juga media elektoronik berbasis internet. Dan, nampaknya, tren konsumsi berita dan informasi berita di internet semakin hari, semakin menunjukkan peningkatan.

Ketika oplah koran dan media cetak semakin hari semakin turun, bisa jadi dalam kurun waktu tak kurang dalam satu dasawarsa, jumlah penonton televisi dan pendengar radio, juga akan menurun secara drastis, tergerus oleh peningkatan pelanggan berita di situs berita online.

Wallahu ‘alam bi shawab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *