Hidup di Luar Angkasa ???

Gardner Elliot adalah seorang pemuda berusia 16 tahun, yang ingin mencari tahu siapakah ayah kandungnya. Salah satu petunjuk, ia dapatkan dari sebuah video yang menampilkan ibunya, Sarah Elliot, yang sedang berdansa bersama seorang lelaki, di sebuah rumah pantai. Gardner berpikir, pria itu itulah ayahnya. 

Gardner bukanlah sosok manusia biasa. Ia adalah manusia pertama yang lahir di Mars. Sebuah planet yang berjarak lebih dari 100 juta kilometer dari bumi. Perjalanan hidup Gardner, hingga akhirnya “terdampar” di Mars, bermula dari peluncuran misi penjelajahan luar angkasa, yang dijalani oleh Sarah Elliot. Ternyata, ia menjelajah luar angkasa, dalam keadaan “berbadan dua“. Ketika pesawat ulang aliknya mampu mendarat di “Planet Merah”, ia melahirkan Gardner. Tapi sayang, Sarah meninggal dunia, karena serangan eclampsia.(sebuah keadaan yang membuat seorang wanita hamil, mengalami peningkatan tekanan darah dan munculnya protein di dalam urin).

Bagaimanakah kelanjutan kisah Gardner ??? Anda bisa mengikutinya secara lengkap di sebuah film berjudul “The Space Between Us”.

***************************************************************

Mimpi manusia untuk hidup di luar angkasa, masih sebatas fiksi bagi sebagian besar umat manusia. Hidup di luar angkasa, hanya milik orang orang terpilih, yang tergabung dalam misi luar angkasa, yang lazimnya disebut astronot, kosmonot atau taikonot. Hingga saat ini, baru ada sekitar 500 orang saja, yang berhasil mencapai luar angkasa. Manusia terlama yang hidup di luar angkasa adalah Valery Polyakov. Pria asal Rusia ini, hidup selama 438 haridi stasiun luar angkasa MIR.

Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat, NASA menyatakan, hidup di luar angkasa akan membuat tubuh mengalami perubahan ekstrem. Kondisi tanpa gravitasi, membuat kerja jantung dan pembuluh darah berubah drastis. Jantung manusia,  dengan bantuan gaya gravitasi, akan memompa darah ke seluruh tubuh. Termasuk organ vital di bagian bawah, seperti saluran pencernaan dan kaki. ketika hidup melayang di luar angkasa, darah dan cairan tubuh akan menumpuk di bagian atas tubuh terutama di kepala. Inilah yang menyebabkan wajah para astronot yang tinggal di luar angkasa tampak bulat. Karena timbunan darah dan cairan tubuh di kepala mereka.

Kondisi ini akan merangsang otak untuk mengeluarkan cairan dalam jumlah banyak. Ketika para astronot kembali mendarat di bumi, kondisi tubuhnya pasti akan mengalami dehidrasi hebat, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif  untuk menormalkan kadar cairan dalam tubuhnya.

Manusia yang hidup di luar angkasa juga akan mengalami perubahan struktur tulang, terutama tulang di bagian kaki. Saat hidup di bumi, tulang dan otot kaki tumbuh kuat dan kokoh. Karena menjadi tumpuan ketika berdiri dan berjalan. Lain halnya ketika berada di luar angkasa, struktur tulang dan otot di bagian kaki menjadi rapuh, bahkan menyusut. Penyebabnya, tulang dan otot kaki tidak harus menopang tubuh, karena badan yang melayang, karena ketiadaan gaya gravitasi. Bahkan bagian tulang belakang bisa memanjang antara hingga 8 sampai 10 centimeter. Kondisi ini, berpotensi menimbulkan penyakit saraf dan nyeri punggung yang hebat.

***************************************************************

Teori dan pendapat ilmiah, bahwa suatu hari nanti, manusia bisa hidup di luar bumi, terus mengemuka. Bahkan kabarnya, NASA terus melakukan penelitian, untuk menemukan sebuah planet selain bumi, yang bisa menampung kehidupan umat manusia. Selain itu, keberhasilan misi luar angkasa, mendaratkan manusia di bulan, juga memancing pendapat, bahwa peradaban manusia di satelit bumi ini, juga dimungkinkan.

Seorang ulama di Arab Saudi, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah menjawab pertanyaan “Apakah mungkin manusia bisa hidup di bulan ?” Dalam kitab Majmu’ Fatawa Wa Rasail, beliau menjelaskan, kehidupan manusia di bulan, tidak mungkin terjadi, dikarenakan manusia tidaklah mungkin bisa hidup kecuali di bumi. Allah berfirman:

“Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan”. [Al-A’raf: 25]

Dalam ayat di atas Allah membatasi kehidupan, kematian dan kebangkitan adalah di bumi. Bentuk pembatasan dalam ayat ini adalah mendahulukan sesuatu yang pada dasarnya harus diakhirkan. [1] Semacam ayat ini adalah firman Allah:

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”. [Thaha: 55]

Yaitu Allah membatasi permulaan ciptaan dari bumi, dan bahwa ke bumi-lah kita akan dikembalikan setelah kematian, dan dari bumi pula kita akan dibangkitkan dari kematian di hari kiamat. Sebagaimana juga ada ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa bumi adalah sebagai tempat kehidupan manusia. Allah berfirman:

“Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya”. [Al Hijr:20]

Zhahir al-Qur’an -tanpa keraguan lagi- menjelaskan bahwa tidak ada kehidupan buat manusia kecuali di bumi ini, yang dari bumi ini manusia diciptakan, dan kepadanya ia akan dikembalikan, dan darinya ia akan di bangkitkan.

Maka kita wajib meyakini zhahir al-Qur’an tersebut, dan jangan sampai persangkaan kita di dalam mengagungkan kreasi makhluk menjauhkan kita sehingga menyelisihi zhahir al-Qur’an dengan perkiraan.

Kalau seandainya ada seorang manusia mampu turun (hidup) di daratan bulan, dan hal itu nyata dan pasti, maka dimungkinkan untuk membawa pengertian kehidupan dalam ayat tersebut ialah kehidupan yang tetap secara jama’ah seperti layaknya kehidupan manusia di bumi, sedangkan hal ini mustahil. Allah a’lam

Dan selanjutnya, bahwa pembahasan dalam masalah ini bisa jadi termasuk ilmu yang tidak diperlukan, seandainya tidak adanya pembahasan dan diskusi sehingga sebagian orang berlebih-lebihan menolak dan mengingkarinya sedangkan sebagian yang lain berlebih-lebihan di dalam menerima dan menetapkannya.

Wallahu ‘alam bi shawab

 

Sumber:

https://almanhaj.or.id/2697-risalah-sekitar-berita-manusia-singgah-di-bulan.html

https://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/ilmuwan-tidak-beriman-manusia-harus-kabur-dari-bumi-agar-tidak-punah.htm#.WZPwHTMjHIU

https://www.nasa.gov/audience/forstudents/k-4/home/F_Living_in_Space.html

 

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *