Bangkitnya Industri Dirgantara

Kesuksesan uji terbang perdana pesawat N-219, tepat 1 hari menjelang Hari Kemerdekaan, dipandang sebagai kebangkitan dunia penerbangan nasional, setelah salama 20 tahun terjebak dalam badai krisis moneter, ekonomi dan politik. Keberhasilan N-219 mengangkasa, membuka optimisme publik terhadap industri dirgantara nasional. PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI), yang dulunya bernama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) akhirnya berhasil menyelesaikan purwarupa (prototype) pesawat hasil rancangannya sendiri, setelah 22 tahun yang lalu, mampu menerbangkan pesawat N-250.

Saat ini, N-219 masih harus menjalani serangkaian uji terbang, hingga 300 jam, untuk mendapatkan type certificate dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementrian Perhubungan. Jika berhasil memenuhi standar dan spesifikasi yang diatur dalam regulasi kelaikan dan keselamatan penerbangan, N-219 bisa diproduksi masal di tahun 2018.

Dari sisi desainnya, N-219, seolah mengambil tema “Pesawat Sederhana”, mirip konsep Low Cost and Green Car (LCGC) di dunia otomotif. Proses rancang bangun hingga penerbangan uji coba N-219, sejatinya tak melulu soal kerja keras PT DI. Di badan pesawat ini, juga tertulis nama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). KINERJA KOLEKTIF  keduanyalah yang membidani lahirnya pesawat N-219.

Terlepas dari keberhasilan penerbangan perdananya, ada kesan N-219 tak secanggih dan semuktakir sang pendahulu, N-250. Padahal pesawat yang disebut terakir itu, lahir 22 tahun sebelum N-219. Tanpa mengurangi kebanggaan kita terhadap industri dirgantara nasional, rasa pesimistis menyeruak saat menegok tampang N-219. Ada kekhawatiran, pesawat ini tak mampu mengangkasa dan menjadi penghubung daerah terpencil di Indonesia.

Jamak diketahui, penyebab dominan kecelakaan udara di Indonesia, adalah faktor cuaca dan topografi wilayah Indonesia. N-219, yang minimalis ini, dibebani target sebagai sarana utama pembangunan tol udara, bagian dari proses pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tanpa terkecuali. N-219 tidak diterbangkan hanya untuk membuka mata dunia, bahwa bangsa Indonesia sudah bangkit dari keterpurukannya. Tetapi lebih dari itu !

N-219 masuk dalam prioritas pembangunan nasional, untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anak bangsa. N-219, harus mampu menyambangi daerah terpencil yang terhimpit gunung, untuk menyalurkan aneka barang dan jasa. Sehingga berbagai suku di pedalaman nusantara, merasakan perkembangan peradaban. Tak heran kiranya, jika pemerintah terus menyuntikkan dana dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) untuk mengembangkan dan menerbangkan N-219.

Pertanyaannya, dengan bentuknya yang terkesan ringkih dan sederhana itu, apakah N-219 mampu mengemban amanah seberat itu ?

Demi mencari jawabannya, penulis menghubungi Prof. Thomas Djamaluddin, yang menjabat Kepala LAPAN. Dalam wawancara singkat, dengan media Whatsapp, penulis bertanya mengenai konsep desain N-219. Prof. Thomas menjelaskan, tekhnologi yang disematkan dalam tubuh N-219, merupakan tekhnologi terbaru dengan mempertimbangkan kondisi wilayah Indonesia yang berbukit-bukit. Guru Besar Riset Antariksa ini menambahkan, dalam proses rancang bangunnya, N-219 telah menjalani analisis topografi Pulau Papua. N-219 memang di desain lebih kecil daripada CN-235 atau R-80 (tipe pesawat yang sedang dikembangkan oleh PT. DI dengan PT. Regio Aviasi Industri). Tetapi, desain ini disesuaikan dengan peruntukan N-219 sebagai penyambung konektivitas daerah terpencil dengan kondisi sarana dan prasarana yang terbatas, khususnya bandara perintis berlandasan pacu pendek. Presentasi penggunaan komponen lokal N-219 mencapai 60%. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi N-219. Tingginya kandungan komponen lokal, diharapkan mampu menekan biaya produksi dan pemeliharaan pesawat. Sehingga maskapai penerbangan perintis yang mengoperasikan N-219 tidak terbebani dengan biaya operasional yang tinggi, dan sanggup menjual tiket dengan harga terjangkau.

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *