Tora Sudiro, Tourette dan Ketergantungan Obat

Tora Sudiro, aktor papan atas yang melejit lewat peran kocaknya di Film Warkop  DKI Reborn, ternyata menderita sindroma Tourette. Dalam pemberitaan di beberapa situs internet, Tora mengaku mengidap Sindroma Tourette (ST) tersebut dalam dua tahun terakhir. Penyakit tersebut membuat suami Mieke Amalia ini, seringkali tidak mampu mengontrol beberapa organ tubuhnya,terutama kepala, yang sering bergoyang tanpa kendali.

Serangan ST semakin parah, ketika aktor yang melejit lewat film Arisan ini, mengalami stress atau dalam kondisi tertekan. Salah satu cara untuk mengobati penyakitnya, adalah mengonsumsi obat berjenis dumolid. Ternyata, konsumsi obat – obatan inilah yang menyebabkan ayah empat anak ini, ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Hingga artikel ini ditulis, pelawak yang tenar lewat serial sitkom Extravagansa ini, ditetapkan sebagai orang yang mengalami ketergantungan obat, setelah menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur – Jawa Barat.

Untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai Sindroma Tourette, penulis mewawancarai dr. Gea Pandhita, Sp.S, melalui media whatsapp. Dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi – Jakarta ini menjelaskan, ST  adalah kelainan neurologis (sistem saraf) yang ditandai dengan adanya gerakan motorik berulang, stereotipik (khas) dan disertai suara-suara tertentu (vokalisasi). Gerakan motorik dan vokalisasi ini bersifat involunter (tidak terkendali), yang dikenal sebagai tics.

 

 

Sebelum tics muncul, pasien merasakan dorongan otot-otot tertentu yang ingin bergerak. Pasien akan bergerak untuk memuaskan dorongan ini. Tics dapat dipicu dan diperparah oleh faktor eksternal. Tics juga lebih sering terjadi saat pasien merasa gugup atau gembira, dan cenderung berkurang saat pasien merasa tenang.  Pasien dengan tics yang lebih ringan dapat mengabaikan dorongan tersebut, sehingga dapat mengendalikan gejala dengan sendirinya. Namun demikian, hal ini dapat menimbulkan ketegangan pada kelompok otot tersebut.

Tics dibagi menjadi dua kategori, yaitu sederhana dan kompleks. Tics motorik sederhana terjadi dalam waktu yang singkat, namun gerakannya berulang-ulang spontan dan tidak dikehendaki. Tic motorik sederhana hanya memengaruhi sekelompok otot. Misalnya kedipan mata, meringis, mengangkat bahu, dan menyentakkan kepala. Tics vokal sederhana terjadi dalam bentuk suara berulang-ulang yang dikeluarkan oleh pasien di luar kesadarannya. Misalnya  mengendus, menghirup (seperti pilek), napas merintih, dan berdehem.

Tics motorik kompleks akan lebih mudah terlihat dan tampak berbeda, karena beberapa kelompok otot terlibat dan bergerak bersamaan. Misalnya melompat, menyentuh hal-hal tertentu, membungkuk, memutar, atau kombinasi dari dua gerakan tersebut.  Tics vokal kompleks ditandai dengan kecenderungan pasien mengeluarkan kata atau frasa tanpa kendali, diantaranya dapat berupa echolalia (mengulang perkataan orang lain) atau coprolalia (mengeluarkan sumpah serapah tanpa sadar).

Dokter berkacamata mata ini menjelaskan, gejala awal TS biasanya terlihat pertama kali saat masa anak-anak, antara usia 3-9 tahun. Kejadian TS lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Kelainan neurologis ini dinamakan sindroma Tourette karena pertamakali dideskripsikan oleh Dr. Georges Gilles de la Tourette, seorang dokter spesialis saraf dari Prancis, pada tahun 1885.

Sindroma Tourrette (ST) bersifat genetik. Penyebab utama sindroma ini masih belum diketahui secara pasti. Penderita ST mengalami gangguan pada daerah otak tertentu (ganglia basalis, lobus frontalis, dan korteks serebri), pada sirkuit yang menghubungkan daerah-daerah tersebut, serta pada neurotransmitter (cairan otak yang berhubungan dengan kerja sistem saraf seperti dopamin, serotonin, dan norepinephrine, yang bertanggung jawab untuk komunikasi antar sel saraf.

Dokter Gea Pandhita menambahkan, sampai saat ini belum ada pengobatan definitif atau obat khusus untuk menyembuhkan sindroma Tourette (ST). Pengobatan saat ini ditujukan untuk mengendalikan gejala tics dan mengatasi gejala-gejala penyerta ST. Pada umumnya penderita akan mengalami gejala tics seumur hidup. Namun demikian, beberapa penderita ST dapat mengalami perbaikan pada usia sekitar 20-an tahun, Bahkan ada penderita yang bebas gejala tics atau tidak lagi memerlukan pengobatan untuk mengendalikan gejala tics.

Penderita ST memiliki harapan hidup normal, dan penyakit  ini tidak mengganggu kecerdasan.  Beberapa kelainan neurobehavioral (kelainan sistem saraf yang berpengaruh terhadap perilaku seseroang) dapat menyertai TS adalah ADHD, OCD, depresi, kecemasan umum, serangan panik, dan perubahan suasana hati. Obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan gejala tics diantaranya adalah golongan neuroleptic dan golongan alpha-adrenergic agonist. Selain itu, terapi non-farmakologis seperti terapi behavior dan psikoterapi juga diberikan pada pasien ST. Dan semua metode pengobatan tersebut ada di Indonesia.

Berdasarkan data, 1 diantara 100 orang kemungkinan mengalami ST dalam berbagai tingkatan, mulai dari yang paling ringan dengan gejala sangat minimal, sampai yang paling berat. Gejala awal ST biasanya terlihat pertama kali saat masa anak-anak, antara usia 3-9 tahun, dan puncaknya pada usia 10-11 tahun. Kejadian ST tiga kali lebih lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Sekitar 67% kasus ST akan mengalami perbaikan gejala tics pada sekitar 10 tahun dari saat pertama kali gejala tersebut terjadi. 33% dari keseluruhan penderita ST akan mengalami gejala tics seumur hidupnya. Namun demikian, pada umumnya gejala tics tersebut akan semakin ringan dengan bertambahnya usia.

Publik figur yang menderita Sindroma Tourette selain Tora Sudiro adalah Brad Cohen . Kisah hidup pria Amerika Serikat ini, bahkan telah diangkat ke layar kaca, dalam judul Front of The Class.

Sumber :

Tora Sudiro 2 Tahun Kena Syndrome Tourette, Apa Itu?

Tora Sudiro Mengalami Sindrom Tourette, Apa Itu?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *