Peran Ayah…

Tulisan ini dibuat sehari setelah saya menyaksikan film berjudul “Real Steel” di stasiun televisi nasional. Film bergenre fiksi ilmiah ini, menceritakan kehidupan ayah dan anak, yang saling bekerjasama di ajang lomba tinju robot professional. Kekuatan film yang dibintangi oleh Hugh Jackman dan Dakota Goyo ini, tak hanya menampilkan visualisasi dahsyat dari pertarungan antar robot.

Bagi saya, film ini menjadi menarik, karena di dalamnya terdapat penggambaran hubungan anak yang “Lapar Ayah” dengan sang bapak. Dakota, yang berperan sebagai Max Kenton, berusaha mendekatkan diri dengan ayah kandungnya, Charlie Kenton, yang diperankan oleh Hugh Jackman. Film dengan jalinan kisah serupa, sebenarnya sudah beberapa kali dibuat oleh Hollywood. Misalnya, kisah Carl Jesper bersama sang anak Percy, dalam film berjudul Chef. Di sini, Percy menjalin ikatan yang kuat dengan sang ayah, dalam petualangan menjalankan bisnis Food Truck.  Film Real Steel dan Chef, pada akhirnya berakhir happy ending. Tokoh utama di dua film ini akhirnya berhasil memperbaiki hubungannya dengan anak mereka. Menurut saya, film ini bisa menjadi alternative sumber hiburan dan sarana untuk merekatkan jalinan kasih di dalam keluarga bagi ayah, atau calon ayah.

************************************

Para pembaca yang budiman, sebagai seorang ayah, saya tidak ingin kedua putra saya, Nazhiif dan Nafiis mengalami nasib layaknya Max Kenton dan Percy Jasper di awal film. Keduanya mengalami krisis tumbuh kembang, karena mengalami “lapar ayah”. Kondisi anak lelaki yang lapar ayah, seringkali bermula dari perceraian. Perpisahan kedua orang tua, seringkali berakibat pada perpisahan anak dengan salah satu orang tuanya.

Dalam buku berjudul “Masuk Surga Sekeluarga”, Bachtiar Nasir menjelaskan, lapar ayah adalah sebuah kondisi dimana seorang anak tidak memiliki kebanggaan terhadap ayahnya. Akibatnya, kasus kenakalan anak dan remaja terjadi. Lapar ayah, menjadikan seorang anak mencari jatidirinya di jalanan dalam bentuk tawuran, penggunaan narkoba, balapan liar, geng motor, dan sebagainya.

Lapar ayah timbul karena seorang kepala keluarga tidak mampu mengemban amanah sebagai sosok pemimpin dalam rumah tangga. Ayah tidak mampu berkomunikasi dengan anaknya, dan gagal menjadi sosok teladan. Kondisi ini adalah sebuah kecelaakaan hidup, karena dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami akan dimintai pertanggunhjawaban atas keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Peran ayah di dalam keluarga bukanlah sebuah mesin uang bagi anak dan istrinya. Ayah inspiratif bukanlah sosok yang memanjakan anak dengan berbagai mainan dan uang. Dalam Islam, ada banyak sosok ayah teladan, beberapa diantaranya adalah Nabi Ibrahim as., Nabi Ya’qub as., dan Luqman, yang ketiganya diabadikan dalam Al Qur’an.
Dari ketiga sosok ini, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa tugas utama ayah, adalah mengenalkan anak terhadap Allah SWT sebagai Rabb Semesta Alam, kemudian menjauhkan anak dari perbuatan syirik, dan taat serta tunduk patuh terhadap aturan aturan Allah SWT.

Bachtiar Nasir menjelaskan, jangan sampai para ayah berinteraksi dengan anaknya, di sisa waktu, setelah pekerjaan kantor, menjalankan aktivitas sosial di luar rumah, dan memuaskan hobi. Berinteraksi dengan anak, harus dikedepankan. bahkan dianjurkan bagi ayah untuk mengambil cuti, khusus untuk menemani anak mengerjakan pekerjaan rumah, mengantar jemput ke sekolah dan bermain bersama.

Pola pendidikan di rumah, adalah sebuah langkah awal dalam pendidikan karakter. Tidak akan mungkin anak memiliki sikap kejujuran, jika ia tidak memiliki kepercayaan terhadap ayahnya. Jangan menyandarkan proses pendidikan kepada sekolah, karena guru adalah orang tua kedua. Ayah adalah mentor kehidupan, sehingga anak memiliki kecakapan dan ketrampilan dalam menjalankan hidupnya. Pendapat dan nasihat ayah harus menjadi masukan utama, ketika anak menghadapi kesulitan hidup, bukannya omongan teman, ketika nongkrong di jalanan atau kafe.

Ayah insipiratif adalah sosok yang mampu menjadikan rumahnya selayak surga, “Baity Jannaty”-“Rumahku Surgaku”. Semoga kita semua bisa berperan sebagai ayah yang mampu membawa anak anaknya sukses dunia akhirat, sebagaimana firman Allah,

“Orang-oranng yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Para ulama menjelaskan, salah satu kenikmatan orang mukmin di akherat adalah berkumpul dengan anak anaknya di dalam surga. Para ulama juga menjelaskan, surga itu memiliki tingkatan tingkatan. Jika ayah mendapatkan surga yang tertinggi, maka Allah akan menempatkan anak-anaknya di tingkatan yang sama. Karena inilah cara Allah membahagiakan hamba-Nya yang mukmin… Subhanallah… Semoga kita mendapatkan kenikmatan ini…

Aamiin Allahumma Aamiin…

 

Baca juga :

Petuah Ayah

Agar Pernikahan Membawa Berkah

Mengenal Ayah Nabi

Sumber :
Nasir, Bachtiar. 2016. Masuk Surga Sekeluarga. AQL Publishing
Orang Mukmin Dikumpulkan Bersama Keluarganya di Surga

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

2 thoughts on “Peran Ayah…”

    1. saya rasa, banyak yang bisa ayah lakukan dalam rangka mendidik anaknya. ada banyak komunitas parenting atau buku-buku di pasaran yang menyediakan aneka tips, permainan dan interaksi antara ayah dengan anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *