Asal Usul Berhala di Mekkah…

Sebelum masa Kenabian Rasulullah SAW, agama bangsa Arab mengikut dakwah Nabi Isma’il as. Inti ajaran beliau adalah menyeru kepada agama bapaknya, Nabi Ibrahim as. Inti agama ini adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya. Namun, perkembangan agama ini, dari generasi ke generasi mulai melenceng, meskipun masih ada sedikit sisa ajaran Tauhid.

Sistem penyembahan berhala, mulai masif ketika muncul Amr bin Luhay. Dia adalah pemimpin bani Khuza’ah. Di kalangan sukunya, dia adalah sosok yang bijaksana, gemar bersedekah, dan peduli terhadap urusan urusan agama. Dengan kelebihannya itu, orang orang Arab di masa itu menganggap Amr bin Luhay sebagai seorang ulama besar, bahkan wali yang disegani.

Suatu waktu, Amr bin Luhay pergi menuju Negeri Syam. Di negerinya para nabi ini, Amr melihat para penduduknya menyembah berhala, dan ia menganggap pemujaan terhadap patung itu, sebagai sesuatu yang dibenarkan dalam ajaran Ibrahim. Maka, ketika kembali menuju Mekkah, ia membawa sebuah berhala bernama Hubal. Dan sesampainya di kota suci itu, Amr meletakkan Hubal di dalam Ka’bah.

Para ulama sepakat, Amr bin Luhay adalah orang pertama yang meletakkan berhala di dalam dan sekitar Ka’bah. Setelah itu, ia mengajarkan para penduduk Mekkah, menyembah berhala, sebagaimana tata cara ibadah para penduduk Syam. Perilaku syirik penduduk Mekkah ini, akhirnya diikuti oleh sebagian besar penduduk Hijaz atau Jazirah Arab. Di masa itu, Mekkah adalah pusat agama bagi bangsa Arab. Jika penduduk Mekkah melakukan kesyirikan, maka akan serta merta diikuti oleh bangsa Arab. Naudzubillah min dzalik…

Amr bin Luhay juga dikisahkan memiliki pembantu atau asisten dari kalangan bangsa jin. Para pembantunya ini, memberinya informasi bahwa ada beberapa berhala yang tertimbun pasir di bawah kota Jeddah. Amr bin Luhay akhirnya datang ke Jeddah, menggali tanah, dan menganggkat berhala berhala tersebut. Kemudian di musim haji, ia memberikan berhala berhala tersebut kepada masing masing kabilah atau suku. Sehingga kemusyrikan dan penyekutuan terhadap Allah SWT terjadi secara meluas di kalangan kabilah yang mendiami Jazirah Arab.

Amr bin Luhay, akhirnya membuat aneka prosesi penyembahan berhala. Pertama, ia mengajarkan penduduk Mekkah, untuk mengelilingi dan melantunkan do’a yang ditujukan kepada para berhala. Para penghuni Mekkah di masa itu, memiliki keyakinan yang kuat atas kekuasaan berhala, dalam mendatangkan rezeki dan menolak segala marabahaya.

Kemudian, di kala tiba musim haji, Amr bin Luhay mengajarkan untuk melakukan thawaf di sekeliling berhala, merunduk dan sujud di hadapannya. Amr juga memerintahkan kaumnya untuk menyajikan hewan sembelihan bagi para berhala. Selain itu, sebagian makanan yang lezat juga disajikan kepada berhala. Dan ketika masa panen tiba, sebagian hasilnya juga diserahkan kepada patung yang dituhankan tersebut.

Ibunda Aisyah ra. Berkata, jika Rasulullah SAW pernah bersabda, mengenai sosok Amr bin Luhay di neraka,

Aku melihat neraka jahannam sebagiannya saling membakar pada sebagian yang lain (apinya berkobar-kobar), dan aku melihat ‘Amr (bin Luhay al-Khuza’i) menarik-narik isi perutnya di dalam neraka. Dan dia adalah orang pertama yang memberikan persembahan berupa saa’ibah kepada berhala”. [HR. al-Bukhari].

Selain mengajarkan penyembahan berhala, Amr bin Luhay juga mengenalkan konsep hewan keramat yang akan ditumbalkan kepada para berhala. Di kalangan penduduk Mekkah dan bangsa Arab pada umumnya. Hewan itu di kalangan Arab Jahiliyah ada beberapa jenis, yaitu Bahîrah, Sâ’ibah, Washîlah dan Hâm.

Tentang Bahîrah, Sâ’ibah, Washîlah dan Hâm ini, terdapat sedikit perbedaan penafsiran di antara para ulama, tetapi pada intinya berujung pada titik yang hampir sama. Yaitu persembahan berupa hewan hidup kepada berhala dan thaghut (setan/berhala yang disembah selain Allâh).

Di antaranya adalah penafsiran Sa’id bin al-Musayyib, seperti yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Bahiirah ialah hewan (onta) yang tidak boleh diperah air susunya, sebagai persembahan kepada thaghutthaghut . Maka tidak boleh seorangpun memerah air susunya”.

Sedangkan sa’ibah ialah hewan (ada yang mengartikan onta dan ada yang mengartikan kambing ) yang dilepaskan oleh orang-orang jahiliyah Arab sebagai persembahan bagi berhala-berhala mereka. Maka tidak boleh ada seorangpun yang memberi beban apapun pada hewan ini.

Selanjutnya Sa’id bin al-Musayyib menerangkan lagi, “Washiilah ialah anak onta berjenis kelamin betina yang dilahirkan pertama, lalu disusul oleh anak keduanya yang juga betina tanpa diselingi anak onta yang jantan. Onta ini dilepaskan untuk persembahan bagi thaghut-thaghut mereka. Sedangkan hâm adalah onta jantan yang berkali-kali membuntingi onta betina, jika sudah tuntas, maka mereka lepaskan onta jantan ini sebagai persembahan bagi thaghut-thaghut dan tidak boleh dibebani apapun. Mereka namakan ini sebagai hâmî.

Sedangkan Ibnu Abbas ra mengatakan, bahîrah adalah onta yang sudah melahirkan sebanyak lima kali. Orang-orang musyrik Arab zaman dahulu akan melihat, jika anak kelima ini adalah jantan, maka mereka menyembelihnya dan dimakan oleh kaum laki-laki saja, tidak oleh perempuan. Jika anak kelima adalah betina, maka mereka menyobek telinganya. Inilah yang disebut bahîrah (lalu dilepas sebagai persembahan kepada berhala-pent).Bahiirah ini haram ditunggangi menurut mereka, dan dihormati.

Sementara sâ’ibah ada yang menafsirkan dengan onta yang sudah beranak sepuluh ekor semuanya betina, lalu induknya dilepas, tidak boleh dijadikan tunggangan, dan tidak boleh diperah air susunya kecuali untuk tamu.Itu semua untuk maksud persembahan kepada berhala. Begitu juga washîlah, ada penafsiran lain tentangnya, tetapi intinya sama yaitu hewan hidup yang dihormati sebagai persembahan bagi berhala.

Persembahan kepada berhala, jin dan makhluk yang diyakini sebagai penguasa tempat tertentu pada zaman jahiliyyah, tidak saja berupa hewan-hewan hidup yang kemudian dianggap suci, tetapi juga daging-daging dari hewan sembelihan atau darahnya.

Pembaca yang budiman, demikianlah awal mula kesyirikan berkembang di Mekkah. Amr bin Luhay adalah orang pertama yang menyandingkan Ka’bah dengan berhala. Dan ia pulalah yang mengenalkan penduduk Mekkah, kepada ritual kesyirikan dan sesaji berupa tumbal hewan ternak. Atas dosanya itu, Amr bin Luhay menjadi salah satu penghuni neraka.  Wallahu ‘alam bi shawab…

 

Baca juga :

Mengenal Ayah Nabi

Kelahiran Rasulullah SAW

 

Sumber:

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 1997. Sirah Nabawiyah (Terjemahan). Penerbit Al Kautsar.

Terbelakang Dengan Tumbal Dan Sesaji

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *