The Love Hormone…

Penelitian mengenai hubungan antara perilaku manusia, dengan endokrinologi (sistem hormon dalam tubuh manusia) mulai banyak dilakukan. Salah satunya, adalah kajian ilmiah yang menghubungkan kadar hormon oxitocin dalam darah, dengan perilaku manusia.

Oxitocin adalah salah satu hormon yang berperan dalam sistem reproduksi wanita. Oxitocin menjadi salah satu hormon yang berperan penting dalam produksi air susu ibu. Oxitocin diproduksi oleh organ bernama hipotalamus yang berada di dalam otak manusia. Hormon ini mulai muncul ketika masa kehamilan sudah mulai memasuki fase akhir. Dalam proses persalinan, Oxitocin berperan penting dalam menimbulkan kontraksi uterus (rahim) sehingga janin bisa lahir melalui jalan lahirnya.

Dalam proses persalinan, pemberian  Oxitocin secara intravena (IV) dilakukan untuk menimbulkan kontraksi rahim, yang dalam bahasa populer disebut dengan persalinan dengan induksi. Pemberian Oxitocin seringkali dilakukan apabila rahim tidak kunjung kontraksi, meski usia kehamilan sudah memasuki minggu ke 38 atau lebih. Setelah proses persalinan, kadar Oxitocin secara normal akan meningkat, sehingga proses produksi ASI berlangsung. 

Tingginya kadar Oxitocin dalam darah wanita, karena menyusui, berimbas pada proses pematangan sel telur, di organ ovarium (indung telur). Hormon ini ternyata bersifat menghambat proses pematangan sel telur, sehingga secara ilmiah, hormon ini termasuk ke dalam bahan yang bersifat sebagai kontrasepsi. Tak heran kiranya, jika selama menyusui, terlebih secara ekslusif, seorang ibu tidak mengalami menstruasi. Inilah dasar ilmiah, mengapa menyusui dipandang sebagai salah satu bentuk kontrasepsi alami. Meskipun hal ini tidak berlaku secara umum, karena pada beberapa wanita yang menyusui, tetap mengalami menstruasi dan memiliki periode subur. 

Namun, para peneliti mulai mengaitkan tingginya kadar Oxitocin dengan perilaku. Salah satunya, penelitian yang dilakukan oleh Kemp dan Guastella. Kedua peneliti ini menyatakan, bahwa kadar Oxitocin berhubungan dengan psikologi manusia, khususnya sifat mempercayai atau memiliki keyakinan terhadap orang lain. Peneliti yang lain, berkesimpulan, Oxitocin berpengaruh sebagai hormon yang bisa mengurangi derajat stress, menimbulkan rasa rileks dan mencegah depresi.

Khusus pada hubungan antara ibu dengan anak, Oxitocin ternyata menjadi hormon yang berperan penting dalam meningkatkan jalinan “kasih sayang” diantara keduanya. Ternyata, proses menyusui tidak semata berjalan sebagai hubungan penyaluran nutrisi dari ibu kepada buah hatinya. Tingginya kadar Oxitocin dalam darah ibu, ternyata berhubungan dengan kedekatan dan keeratan ikatan ibu dan anak.

Selain itu, sentuhan dan belaian kasih sayang dari orang tua kepada anak, juga berpengaruh terhadap kadar Oxitocin. Ada beberapa penelitian yang menyebutkan, anak yang mendapatkan cukup perhatian, kasih sayang, dan belaian memiliki kadar Oxitocin yang tinggi. Dampaknya, ketika anak tersebut dewasa, ia memiliki kecerdasan emosional yang baik. Anak tersebut memiliki kepercayaan diri yang tinggi, serta mampu mempercayai orang lain. Tak heran kiranya, jika di masa dewasa, anak yang memiliki kadar Oxitocin tinggi di masa kecil mampu meraih kesuksesan dan menjadi pribadi yang berpengaruh.

Dalam konteks psikologi sosial, Oxitocin juga berperan dalam interaksi sosial. Setelah diteliti, seseorang yang nyaman dengan pasangan atau sahabatnya, ternyata memiliki kadar Oxitocin yang lebih tinggi, dibandingkan dengan orang yang tidak nyaman dengan lingkungannya. Oxitocin adalah hormon yang memberikan kenyamanan dan kehangatan ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya.

Dalam konteks percintaan, Oxitocin menjadi hormon yang kadarnya tinggi, ketika seorang manusia membangun hubungan dengan lawan jenisnya. Rasa cinta itu, dalam kajian endokrinologi ternyata berhubungan dengan kadar Oxitocin. Itulah sebabnya, Oxitocin disebut sebagai The Love Hormone.

Pemirsa yang budiman, rangkaian fakta ilmiah ini disusun berdasarkan kajian dan penelitian ilmiah. Semoga menginspirasi dan menjadi sumber informasi, khususnya dalam proses pengasuhan anak (parenting). 

 

Sumber :

Inducing Labor

Tend and Defend

The Role of Oxytocin in Human Affect

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *