Kelahiran Rasulullah SAW…

Muhammad Sulaiman Al-Manshurufuri dan Mahmud Basya, menyatakan jika Rasulullah SAW dilahirkan pada tanggal 20 atau 22 April 571 M, dalam penanggalan Islam Sang Penutup Para Nabi dan Rasul ini, lahir pada 9 Rabi’ul Awwal, ketika terjadi peristiwa hancurnya pasukan gajah pimpinan Abrahah.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW diiringi dengan fenomena alam yang dahsyat. Selepas menjalani proses persalinan, dan bayi Rasulullah SAW lahir dengan selamat, muncul cahaya putih dari organ reproduksi ibunda Nabi, Aminah binti Wahb. Cahaya putih itu, menurut beberapa riwayat mampu menyinari  istana-istana yang ada di negeri Syam.

Ada juga yang meriwayatkan, kelahiran Nabi SAW diiringi dengan tenggelamnya beberapa gereja yang ada di sekitar kota Burairah. Gereja itu amblas ke tanah, seolah ditelan bumi. Selain itu, api yang biasa disembah oleh bangsa Majusi di Persia, juga padam, tatkala bayi Muhammad SAW dilahirkan. Salah satu ulama yang meriwayatkan kejadian ini adalah Imam Al Baihaqi.

Setelah melahirkan putra semata wayangnya itu, Aminah mengutus salah seorang pembantunya, untuk memberikan kabar gembira kepada mertuanya, Abdul Muththalib. Sang kakek, sangat bergembira dengan kehadiran cucunya itu, dan langsung membawa sang bayi mulia itu, ke dalam Ka’bah. Di tempat suci ini, Abdul Muththalib berdo’a dan bersyukur kepada Allah. Selepas itu, Abdul Muththalib memberi nama cucunya, Muhammad. Nama ini di masa itu masih asing di telinga bangsa Arab. Dan, sebagaimana adat bangsa Quraisy, bayi Muhammad SAW dikhitan pada hari ke 7.

Wanita pertama yang menyusui bayi Rasulullah SAW setelah ibundanya adalah Tsuwaibah. Wanita ini adalah budak milik Abu Lahab, salah satu anak Abdul Muththalib.  Ketika itu, Tsuwaibah juga sedang menyusui anak Abu Lahab yang bernama Masruh. Tsuwaibah juga menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib ra.

Di masa itu, Mekkah adalah sebuah kota metropolitan. Namun, perkembangan kota ini berdampak buruk bagi kesehatan penduduknya. Mereka percaya, wanita-wanita yang tinggal di pedesaan belum terpapar penyakit (polusi) di perkotaaan. Sehingga wanita penghuni Mekkah, memberikan anaknya untuk disusui oleh wanita yang tinggal di pedesaan. Mereka berharap kebersihan lingkungan pedesaan, membuat pertumbuhan bayinya menjadi sehat dan kuat.

Selain itu, penduduk desa atau bangsa Arab badui, justru mampu berbahasa Arab dengan fasih. Sehingga bayi yang mereka susui bisa berbicara dengan bahasa Arab yang masih murni, belum tercampur dengan dialek suku lain. Sosok wanita desa, yang dipilih oleh Abdul Muththalib untuk menyusui bayi Rasulullah SAW adalah Halimah As Sa’diyah.

Halimah berkisah, suatu hari, ia pergi meninggalkan desanya menuju ke kota dalam sebuah rombongan besar yang didalamnya terdapat wanita wanita yang bertujuan mencari bayi yang bisa disusui. Halimah dan para wanita dari sukunya berharap mendapatkan upah memadai, imbalan dari jasa menyusui bayi penduduk kota. Ketika pergi menuju Mekkah, Halimah juga membawa serta bayinya, yang masih dalam susuannya.

Ia pergi ke Mekkah, ketika desanya mengalami masa paceklik dan tak memiliki banyak harta (miskin). Halimah berangkat ke Mekkah menunggang seeokor keledai betina berwarna putih. Selain itu, ia dan suaminya membawa seekor unta tua yang sudah kering susunya. Dalam perjalanan menunju Mekkah, Halimah dan suaminya tak mampu membeli makanan. Dalam kondisi lapar, air susu Halimah pun mengering, sehingga membuat bayinya, yang ia bawa bepergian terus menerus menangis sepanjang malam.

Ketika Halimah tiba di Mekkah, Halimah langsung mendatangi setiap rumah, untuk mencari bayi yang bisa ia susui. Dari jasa menyusui ini, Halimah mengharapkan upah dari ayah sang bayi. Di sisi lain, setiap wanita badui, yang ditawari untuk menyusui bayi Rasulullah SAW, selalu menolak. Alasannya, karena status bayi Nabi SAW, adalah seorang anak yatim. Para wanita badui itu pesimis, bisa mendapatkan upah yang memadai, dari hasil menyusui seorang bayi yatim.

Ketika seluruh wanita dari desanya telah mendapatkan bayi susuan, Halimah berkata kepada sang suami,

“Demi Allah aku tidak ingin kembali bersama teman-teman wanitaku, tanpa bayi yang disusui. Demi Allah, aku benar-benar akan mendatangi bayi yatim itu, dan membawanya.”

Mendengar perkataan istrinya, suami Halimah berkata,

“Memang ada baiknya engkau melakukan hal itu. Semoga saja Allah mendatangkan barakah untuk kita pada diri anak itu.”

Kemudian, Halimah pergi mengambil bayi Rasulullah SAW. Ketika pertama kali menggendong bayi Rasulullah SAW, Halimah tidak merasa berat dan kerepotan. Tiba tiba, payudara Halimah menjadi kencang,sehingga bayi Rasulullah bisa minum hingga kenyang. Asi Halimah menjadi melimpah, sehingga anak kandungnya juga bisa meminumnya hingga kenyang.

Setelah itu, Halimah kembali ke desanya, dengan menunggang keledai yang sama. Tapi, kini kondisinya berubah drastis. Keledainya kini menjadi hewan tunggangan yang kuat. Hal yang sama juga terjadi pada unta tua milik suami Halimah, jika awalnya hewan tersebut sudah tak memiliki susu, tiba tiba ambingnya penuh. Ketika diperah, susu unta tua itu, mampu mengenyangkan Halimah dan sang suami.

Setibanya di desa kampung halaman, kondisi paceklik sudah berganti dengan suburnya kebun miliknya. Domba domba milik Halimah bisa makan hingga kenyang, sehingga ambingnya dipenuhi susu. Halimah merasa, bayi yang disusuinya itulah sumber barakah dan rezeki bagi diri dan keluarganya.

Setelah Nabi SAW berusia 2 tahun, Halimah menyapih Rasulullah SAW, dan mengembalikan beliau kepada sang ibunda. Tetapi, ketika Halimah mengembalikan anak susuanya itu, ia berkata kepada Aminah, sang Ibunda Nabi SAW,

“Andaikan saja engkau sudi membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga menjadi besar. Sebab aku khawatir dia terserang penyakit yang biasa menyerang kota Mekkah.”

Akhirnya Aminah mengijinkan Halimah mengasuh Rasulullah SAW hingga berumur 4 atau 5 tahun.

Wallahu ‘alam bi shawab…

 

Baca juga :

Mengenal Ayah Nabi

Asal Usul Berhala di Mekkah

 

Sumber:

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 1997. Sirah Nabawiyah (Terjemahan). Penerbit Al Kautsar.

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *