Setiap Amal Tergantung Niat…

Alkisah, ada seorang muslimin penduduk Mekkah yang ingin menikahi seorang wanita, bernama Ummu Qais. Sebelum terjadi peristiwa hijrah, sang lelaki tersebut mengajukan khitbah (lamaran). Namun, sebelum Ummu Qais menerima lamaran itu, ia meminta sebuah persyaratan. Yaitu sang pelamar harus ikut dalam rombongan penduduk Mekkah yang hijrah ke Madinah. Dan, sang lelaki itu memenuhi persyaratan tersebut. Akhirnya kaum muslimin menyebut nama sang lelaki dengan sebutan Muhajir Ummu Qais. Yang artinya, orang yang berhijrah demi (cinta) Ummu Qais.

Ketika mendengar hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niat, tiap-tiap perkara tergantung pada apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan dikehendakinya atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang diniatkannya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab ra. Dan termasuk 40 hadits utama dalam kitab Hadits Arba’in milik Imam An Nawawi. Para ulama menjelaskan, hadits tersebut merupakan hadits penting dalam ruang lingkup ke-Islaman, dasar agama yang meliputi hampir seluruh hukum-hukum. Imam Abu Dawud menjelaskan,

“Sesungguhnya hadits ini (setiap amal tergantung niat) merupakan separuh keimanan. Sebab, agama ada yang bersifat zahir berkaitan dengan amal perbuatan, dan ada yang bersifat batin yang berkaitan dengan niat.”

Imam Ahmad dan Imam Syaf’i menyatakan,

“Hadits ‘setiap amal tergantung pada niat’ meliputi sepertiga ilmu, karena nilai amal seorang hamba itu tergantung pada hati, lisan, dan anggota tubuhnya, sedangkan niat dengan hati termasuk salah satu dari tiga bagian ini.”

Para ulama menjadikan hadits ini sebagai pembuka kitab, karena ingin mengingatkan para penuntut ilmu, untuk meluruskan niatnya hanya untuk mengharap ridha Allah SWT semata dalam menuntut ilmu dan berbuat kebaikan.

Para ulama juga berusaha mengambil hikmah dari hadits ini, yaitu :

  1. Para ulama sepakat, bahwa amal perbuatan yabg bersumber dari orang orang mukmin mukallaf (orang yang terkena kewajiban menjalankan perintah agama), tidak akan mendapatkan pahala kecuali disertai dengan niat. Dalam beribadah, niat adalah sebuah maksud dari seorang hamba. Misalnya hamba berniat ingin shalat, haji dan sebagainya. Niat merupakan syarat sahnya semua sarana ibadah. Tempat niat adalah di dalam hati, tidak harus diucapkan, dan disyaratkan untuk membedakan dengan niat ibadah lainnya. Misalnya, seseorang harus mampu membedakan di dalam hatinya, apakah ia mengerjakan shalat dhuhur atau ashar.
  2. Hijrah adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Terutama bagi kaum muslimin yang tinggal di negerinya orang-orang kafir. Hijrah harus dikerjakan, apabila seorang muslim tidak mampu menunjukkan identitas agamanya, dan hukum ini masih tetap berlaku hingga saat ini, tidak terikat oleh batasan waktu. Memang Nabi SAW pernah bersabda,

“Tidak ada hijrah sesudah penaklukkan Mekkah.” Adapun dalam hadits tersebut maksudnya adalah tidak ada lagi kaum muslimin yang hijrah dari kota Mekkah, karena kota tersebut telah dikuasai oleh kaum muslimin dan menjadi daerah kekuasaan umat Islam.

Hijrah juga mengandung makna untuk meninggalkan perkara dan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

  1. Hadits ini juga memberi pelajaran, bahwa siapapun yang telah berniat mengerjakan amalan shaleh, namun terhalang karena sesuatu yang tidak disengaja, misalnya karena sakit, akan tetap mendapatkan balasan dari Allah sesuai dengan apa yang telah dia niatkan. Hadits ini juga memberikan pelajaran bagi kita, untuk ikhlas dalam beramal dan beribadah sampai mendapatkan ganjaran pahala di akhirat serta taufik dan kesuksesan di duni

Hadits ini mengajarkan kepada seluruh umat muslim, bahwa seluruh amalan ibadah yang membawa manfaat dan kebaikan harus berlandaskan niat dan keikhlasan hanya untuk mengarapkan ridha Allah SWT saja.

Wallahu ‘alam bi shawab.

 

Sumber : Al-Bugha, Mustafa dan Muhyiddin Mistu. 2013. Al-Wafi’ Syarah Hadis Arba’in an-Nawawi. Darul Uswah. Yogyakarta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *