Masa Kecil Nabi Muhammad SAW…

Ketika bayi, Muhammad SAW diasuh oleh seorang wanita dari Bani Sa’d, yaitu Halimah bin Abu Dzu’aib, istri dari Al Harits bin Abdul Uzza. Tanda-tanda keberkahan yang ada pada bayi Muhammad SAW, sudah terasa, ketika menengok kehidupan Halimah dan sang suami. Sebelum menyusui bayi Muhammad SAW., Halimah dan suaminya dalam kondisi memprihatinkan. Kebun mereka kering, dan ternak yang dimilikinya tubuhnya kurus, dan tidak menghasilkan susu. Namun, ketika menyusui bayi Rasulullah SAW, sontak kehidupan Halimah dan keluarganya berubah. Kebun milik keluarga Halimah langsung hijau dan subur, serta ternak yang mereka miliki berbadan gemuk dan ambingnya penuh susu.


Ketika Muhammad SAW sudah berusia 2 tahun, Halimah mengembalikan pengasuhannya kepada ibundanya, Aminah binti Wahb. Namun, karena cinta kasih yang begitu mendalam, Halimah memohon kepada Aminah, agar Muhammad SAW tetap dalam pengasuhannya. Akhirnya, Muhammad SAW terus berada dalam pengasuhan Halimah hingga berusia 4 atau 5 tahun.

Dalam usia itu, Malaikat JIbril as. mendatangi Muhammad SAW, dikala beliau sedang bermain-main dengan teman sebayanya. Kemudian Malaikat Jibril memegang tubuh Nabi SAW dan meletakkanya dalam keadaan terlentang. Setelah itu, Sang Raja Malaikat ini membelah dada Muhammad SAW, mengeluarkan hati beliau, mengeluarkan segumpal darah dari dadanya, dan kemudian ia berkata,

“Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu.”

Kemudian Malaikat Jibril mencuci hati Muhammad SAW dalam sebuah baskom emas, dan membasuhnya dengan air zamzam. Setelah itu, Malaikat Jibril meletakkan hati Muhammad SAW kedalam tempatnya semula.

Ketika teman-teman sebaya nabi melihat hal ini, mereka langsung memberikan kabar kepada Halimah. Mereka berkata,

“Muhammad telah dibunuh.”

Peristiwa pembelahan dada ini, membuat Halimah sangat khawatir. Sehingga dia mengembalikan pengasuhan Nabi SAW kepada ibundanya. Nabi Muhammad SAW., hidup bersama ibundanya hingga beliau berusia 6 tahun.

Suatu waktu, Aminah ingin mengunjungi makam sang suami, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang berada di kota Yastrib (Madinah). Aminah mengajak serta putra satu-satunya, yaitu Muhammad SAW. Perjalanan dari Mekkah menuju Yatsrib sekitar 500 kilometer. Aminah pergi menuju Yastrib ditemani oleh pembantu perempuannya, yaitu Ummu ‘Aiman, dan beliau menginap selama 1 bulan disana. Dalam perjalanan kembali ke Mekkah, Aminah jatuh sakit, hingga meninggal dunia di kota Abwa’.

Setelah bersatatus sebagai anak yatim piatu, Muhammad SAW diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthalib. Beliau adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy. Sang kakek sangat mencintai Muhammad SAW. Bahkan, meski berstatus cucu, Abdul Muthalib lebih mengutamakan Muhammad SAW dibandingkan anak-anaknya.

Ibnu Hasyim berkata, di masa lalu, ada sebuah dipan milik Abdul Muthalib di dekat Ka’bah. Tidak ada satupun penduduk Mekkah, yang berani duduk diatas dipan itu. Tiba-tiba Muhammad SAW yang masih anak-anak, duduk diatas dipan itu. Melihat hal ini, paman-paman beliau melarang Muhammad SAW duduk diatas dipan itu, dan menyuruhnya turun. Melihat hal ini, Abdul Muthalib lalu berkata,

“Biarkanlah anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.”

Kemudian, Abdul Muthalib mendampingi Muhammad SAW dan mengelus punggungnya. Muhammad SAW adalah penghibur hati sang kakek, hingga ia wafat ketika Muhammad SAW berusia 8 tahun. Sebelum meninggal dunia, Abdul Muthalib telah berwasiat kepada salah satu putranya, yaitu Abu Thalib, agar mengasuh Muhammad SAW.

Pola asuh Abu Thalib kepada Muhammad SAW. tidak berbeda dengan sang ayah. Abu Thalib memperlakukan Muhammad SAW seperti anaknya sendiri. Abu Thalib terus mendampingi Muhammad SAW hingga beliau mendapatkan risalah Kenabian.

Abu Thalib pernah meminta hujan dengan perantaraan Muhammad SAW. Ibnu Asakir menceritakan, suatu ketika Mekkah dilanda kekeringan parah, sehingga menghadirkan musim paceklik yang berkepanjangan. Kemudian orang-orang Quraisy berkata kepada Abu Thalib,

“Wahai Abu Thalib, lembah sedang kekeringan dan kemiskinan melanda. Marilah kita berdo’a minta hujan.”

Maka, Abu Thalib keluar bersama Muhammad SAW, yang seolah-olah wajahnya adalah matahari yang membawa mendung, yang menampakkan awan sedang berjalan pelan-pelan. Di sekitar Abu Thalib juga ada anak-anak kecil yang sebaya dengan Muhammad SAW. Abu Thalib memegang Muhammad SAW dan menempelkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Jari-jemarinya memegangi tubuhnya.

Langit yang tadinya cerah dan bersih dari mendung, tiba-tiba saja mendung, dan datang dari segala penjuru, hingga akhirnya menurunkan hujan yang sangat deras. Akibatnya lembah-lembah terairi dan lading-ladang menjadi subur.

Wallahu ‘alam bi shawab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *