Bekerja adalah Ibadah…

Doktor Jaribah Al Haritsi dalam buku berjudul Al-Fiqhul Iqtishad menuliskan, bahwa Khalifah ‘Umar bin Khattab ra. pernah menjumpai 3 orang yang terus menerus berada di Masjid Nabawi. Ketiganya mengikuti shalat berjama’ah. Tetapi, setelah imam mengucapkan dua kalimat salam, mereka terus berada di masjid. Mereka hanya duduk, berdzikir dan membaca Al Qur’an. Seakan-akan mereka terus menerus dalam keadaan beri’tikaf.

Kemudian Al Faruq mendatangi dan bertanya kepada mereka,

“Apa yang kalian kerjakan disini ?”

Ketiganya mengucapkan jawaban yang sama,

“Kami beribadah kepada Allah, wahai Amirul Mukminin…”

Kemudian, ‘Umar bin Khattab kembali bertanya,

“Jika kalian terus-menerus berada di masjid, siapakah yang menanggung nafkah dan keperluan kalian sehari-hari ?”

Orang pertama menjawab,

“Wahai Amirul Mukminin. Allah. Dzat Yang Maha Kaya, menjamin rizqi seluruh makhluk-Nya, bahkan makhluk yang melata sekalipun. Maka janganlah engkau mengkhawatirkan kami, sebab Allah adalah sebaik-baik Dzat Yang Menjaga. Dia-lah Yang paling Maha Penyayang diantara semua yang penyayang.”

Mendengar jawaban ini, ‘Umar bin Khattab ra. mengangguk dan kembali mengulang pertanyaannya kepada 2 orang yang lain. Orang kedua menjawab,

“Wahai Amirul Mukminin. Aku memiliki saudara kandung, yang amat kucintai dan diapun mencintaiku. Tetapi kami memiliki kecenderungan yang berbeda.Dia amat menyukai dan mahir dalam perniagaan. Sedangkan aku, beberapa kali pernah mencoba berdagang, namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Hingga habislah seluruh modal yang kupunya. Sehingga aku dan saudaraku akhirnya sepakat. Aku akan terus menerus berdo’a dan bermunajat sebagai ahli ibadah di Masjid Nabawi. Sedangkan dia akan terus bekerja keras berdagang di pasar. Hasil keuntungan dari perdagangan itu, akan kami bagi rata, sehingga bisa untuk menafkahi kami sekeluarga.”

Mendengar jawaban ini, ‘Umar bin Khattab ra. tertawa. Dan kemudian beliau berkata,

“Ketahuilah. Boleh jadi saudaramu itu hakikatnya lebih ahli dalam beribadah dibandingkan dirimu!”

Setelah itu, ‘Umar bin Khattab meninggalkannya. Beliau teringat pada sabda Rasulullah SAW.,

“Boleh jadi, seseorang mendapatkan rizqi bersebab ibadah anggota keluarganya.”

Akhirnya ‘Umar ra. menemui orang yang ketiga, dan bertanya kepadanya. Orang ini tubuhnya kuat dan berbadan sehat. Dan kemudian ‘Umar bertanya kepadanya,

“Siapakah yang menyediakan kebutuhan hidupmu, hai hamba Allah?”

Kemudian, lelaki itu menjawab,

“Alhamdulillah. Meski aku berdiam di masjid, tetapi setiap hari selalu ada orang yang memberikanku berbagai makanan dan uang. Padahal aku tidak memintanya. Maka sungguh, inilah karunia Allah Yang Maha Kaya.”
Mendengar jawaban ini, ‘Umar bin Khattab ra. menjadi marah dan murka. Ia menyeret pria itu,hingga keluar masjid. Kemudian khalifah kedua ini berkata,

“Pergilah ! Bekerjalah di kebun milik ‘Umar ! Sungguh, demi Allah, kau telah membebani manusia dengan keberadaanmu di Masjid Rasulullah. Dan kau merusak dirimu, dengan menjadi peminta-minta. Wahai hamba Allah, bekerjalah ! Karena sesungguhnya anugerah Allah tidaklah diperoleh dengan duduk dan bemalas-malasan disertai pengharapan dari sesama manusia !”

**********
Pembaca yang budiman, bekerja adalah sebuah bentuk mengutuhkan ketakwaan kita kepada Allah. Bahkan, sebelum beribadah, kita diwajibkan untuk menjaga amanah dan harta benda kita, sebagaimana kita diperintahkan untuk mengikat unta sebelum masuk ke dalam masjid. Bekerja adalah mengutuhkan persandaran kepada Allah, agar dapat menegakkan punggung dalam shalat dengan rizqi yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Sehingga dalam ibadah, kita tidak bergantung dan berhutang kepada sesama manusia. Bekerja bertujuan akan kita mampu mandiri dalam pengabdian kepada Allah SWT.
Bagi seorang suami, adalah sebuah sabda indah dari Rasulullah SAW kepada para pencari nafkah,

“Ada empat dinar. Satu dinar engkau berikat kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)

Wallahu ‘alam bi shawab…

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *