Mengenal Dome of The Rock, Baitul Maqdis dan Al Quds…

Ketika menyebutkan nama Masjidil Al Aqsha, seringkali kita terbayang akan sebuah masjid berbentuk segi delapan dengan kubah berwarna emas. Berdasarkan warna kubah tersebut, disebutkanlah bahwa Masjidil Al Aqsha sebagai Dome Of The Rock. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi saya, yang mengunjungi Masjidil Al Aqsha pada tahun 2013 dan 2015, penamaan tersebut nampaknya kurang tepat.

Masjidil Al Aqsha adalah sebuah kompleks suci seluas 14,4 hektar yang berada di dalam Kota Tua Yerussalem atau Al Quds (ditandai kotak merah)

Masjidil Al Aqsha, sebenarnya berupa kompleks suci, dengan luas sekitar 14,4 hektar, yang berada di dalam Kota Tua Yerussalem atau The Old City of Jerusalem.  Di dalam kompleks ini terdapat Masjid Berkubah Emas, yang biasa disebut Masjid Kubatus Al Sakhra atau Dome of The Rock. Tetapi, penduduk Yerussalem Timur yang beragama muslim, tidak melaksanakan shalat berjama’ah di masjid ini.

Dome of The Rock, sejarah awalnya dibangun oleh Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ketika itu, beliau berhasil merebut Kompleks Suci Masjidil Al Aqsha dari tangan Kekaisaran Romawi. Saat memasuki kompleks suci Al AQsha, Sang Khalifah kedua ini bertanya kepada penduduk sekitar,

“Dimanakah letak batu pijakan Rasulullah SAW ketika beliau melaksanakan Mi’raj ?”

Kemudian penduduk sekitar menunjukkan batu yang berada di dalam kompleks suci tersebut. Setelah mengetahui hal ini, maka ‘Umar bin Khattab ra. menandai batu bersejarah tersebut dengan sebuah bangunan. Kemudian, di masa kekhalifahan Sultan Al Marwan, bangunan  yang dibangun oleh Khalifah ‘Umar dikokohkan menjadi bangunan bersegi delapan yang dilengkapi dengan kubah setengah lingkaran. Pada tahun 1959-1961 dan di tahun 1993 kubah tersebut dilapisi emas yang total beratnya mencapai 80 kilogram. Emas ini merupakan sumbangan dari Raja Husein dari Yordania.

Batu pijakan yang terdapat di bawah masjid Dome of The Rock, tidak hanya menjadi pijakan Rasulullah SAW. saat bertolak menuju Sidrathul Muntaha. Batu ini juga menjadi kiblat pertama umat muslim. Sebelum Allah menurunkan Surat Al Baqarah ayat ke 144.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya”

Jadi, ketika Allah menurunkan perintah shalat kepada Rasulullah SAW dan umatnya, kiblat masih mengarah ke Masjidil Al Aqsha, tepatnya batu yang berada di bawah Dome of The RockPerpindahan Ka’bah dari Masjdil Aqsha ke Ka’bah baru terjadi 16 – 17 bulan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Batu suci di dalam Dome of The Rock, lebih disucikan oleh kaum Yahudi. Mereka percaya, bahwa dalam sejarah kurban, putra Nabi Ibrahim as. yang disembelih adalah Ishaq as., bukannya Ismail as. Sehingga berdasarkan kepercayaan umat Yahudi, peristiwa penyembelihan putra Ibrahim as. tidak terjadi di Mekkah, melainkan di Masjidil Al Aqsha. Tepatnya diatas batu yang berada di dalam Dome of The Rock.

Saat ini, bangsa Yahudi sangat berambisi menguasai Dome of The Rock. Karena mereka yakin, jauh di dalam tanah, terdapat Singgasana dan Tabuk serta rangka Nabi Sulaiman as. Ketiga benda ini, menjadi benda yang sangat berharga, karena umat Yahudi percaya, penyelamat mereka di masa akhir zaman, Messias, akan datang ketika umat Yahudi berhasil mendapatkan kembali singgasana, Tabuk dan Rangka Nabi Sulaiman as.

Masjid Dome of The Rock. Di bawah kubah emas, terdapat kaligrafi berbahan marmer bertuliskan QS. Al Isra’

Konon kabarnya, ketika ‘Umar bin Khattab mengambil alih kekuasaan Dome of The Rock dari Romawi, ketiga benda tersebut memang terdapat di bawah tanah batu pijakan Nabi Muhammad SAW. Dan akhirnya beliau kunci rapat dalam sebuah peti/pintu besi.

Di Masjid Jami’ Al Aqsha inilah umat muslim Yerussalem melaksanakan ibadah dan shalat fardhu berjama’ah

Di dalam kompleks Masjidil Al Aqsha, terdapat masjid yang letaknya berada di barat Dome of The Rock, dengan kubah berwarna biru keperakan. Inilah masjid yang disebut dengan Masjid Jami’ Al Aqsha. Di masjid inilah penduduk Yerusssalem melaksanakan shalat fardhu termasuk shalat jum’at secara berjama’ah. Salah satu imam rawatib di masjid Jami’ Al Aqsha adalah Syeikh Yusuf Abu Sneinah, yang sering berkunjung dan berdakwah ke Indonesia utamanya di kala bulan Ramadhan. Di dalam masjidil Al Aqsha terdabat sebuah mimbar yang menjadi replika Mimbar Rasulullah SAW. Mimbar ini masih digunakan oleh khatib shalat jum’at hingga saat ini.

Replika Mimbar Rasulullah SAW yang berada di dalam Masjid Jami’ Al Aqsha

Ada sebuah kebiasaan dari masyarakat penghuni Yerussalem selepas shalat Subuh, Maghrib dan Isya’ secara berjama’ah. Ketika di musim dingin, mereka menyediakan kopi dan teh hangat, yang disediakan gratis bagi seluruh jama’ah. Selain itu, mereka juga menyediakan aneka buah-buahan lokal, sebagai teman minum.

Masih di dalam kompleks Al Aqsha, masih ada sebuah masjid, yang berada dibawah bangunan Masjidil Jami’ Al Aqsha. Masjid bawah tanah ini, hanya dibuka mulai pukul 08.00 sampai 17.00 waktu setempat. Sehingga tidak dipergunakan untuk shalat secara berjama’ah. Saat ini, penjaga masjid tersebut dijaga oleh keturunan sahabat Abu Ayyub Al Anshari ra.

Masjid bawah tanah ini, konon kabarnya merupakan bekas reruntuhan Istana atau istal kuda Nabi Sulaiman as. Ketika terjadi  Perang Salib, masjid ini dikuasai oleh Ksatria Templar. Dan disinilah, kabarnya mereka menemukan Makam dari Maria Magdalena atau Maria Magdaliyah. Salah satu poin penting dalam makam itu, adalah Naskah Asli Injil dalam bahasa Mesir Kuno. Dan konon kabarnya, di dalam makam ini juga terdapat cawan suci, yang mengisahkan pernikahan Nabi Isa as. dengan Maria Magdaliyah. Kemungkinan besar, berita dalam cawan suci inilah, yang mendasari Dan Brown menulis novel larisnya yang berjudul The Da Vinci Code.

Masjid Al Marwan yang berada di bawah tanah

Di sisi utara masjid jami’ Al Aqsha juga terdapat masjid kecil bawah tanah. Kebetulan di dinding masjid tersebut tertanam sebuah gelang besi. Konon kabarnya, ketika Nabi Muhammad SAW. datang dari Mekkah, beliau menambatkan tali kekang Bouraq di gelang besi tersebut. Uniknya, tempat gelang besi itu tertanam, di sisi sebelahnya ditetapkan oleh umat Yahudi sebagai tembok ratapan.

Masjid Bouraq, dimana terdapat gelang besi, yang diyakini tempat menambatkan tali kekang Bouraq ketika Rasulullah SAW menjalani Isra’ Mi’raj

Selain itu, di dalam Masjidil Al Aqsha terdapat ruangan-ruangan yang saat ini digunakan sebagai sarana pendidikan dan sekolah bagi penduduk Yerussalem yang beragama muslim. Kawasan masjidil Al Aqsha memiliki beberapa nama, antara lain Baitul Maqdis (tempat suci).

“Ketika orang-orang Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Hijr Ismail) kemudian Allah memperjalankan aku ke Baitul Maqdis…” (HR. Bukhari Muslim)

Selain itu, juga ada yang menyebut Masjidil Al Aqsha sebagai Masjid Al Haram Asy-Syarif. Karena kompleks suci ini menjadi tempat suci ketiga, selain Mekkah dan Madinah. Nabi SAW bersabda,

Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” (HR Bukhari dan Muslim).

Masjidil Al Aqsha dinamai Al Haram, karena sama sucinya dengan dua tanah haram, yaitu Mekkah dan Madinah. Selain itu, sholat di dalam kompleks Al Aqsha, akan mendapat ganjaran pahala 1.000 kali lipat dibandingkan dengan shalat di tempat lainnya. Nabi SAW bersabda,

“Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat di Masjid al-Aqsha, dan Masjid al-Aqsha adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir tiba suatu masa, dimana seseorang memiliki tanah seukuran tali kekang kudanya, dari tempat itu terlihat Baitul-Maqdis, hal itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya atau beliau mengatakan lebih baik dari dunia dan segala yang ada di dalamnya.” (HR. Hakim)

Saat ini, kompleks suci Masjidil Al Aqsha dibawah kekuasaan pemerintahan Islam Palestina. Ada polisi Islam yang berjaga di dalam kompleks. Namun, di gerbang-gerbang Masjidil Al Aqsha, yang menjadi akses masuk bagi seluruh umat muslim, dijaga oleh Polisi Israel. Mereka berjaga diseluruh gerbang masuk Masjidil Al Aqsha, yang berwarna hijau yang terbuat dari besi tempa.

Polisi Israel ini memiliki kuasa penuh mengizinkan atau menolak umat muslim ke dalam Masjidil Al Aqsha. Jika mereka merasa atau sedang “iseng” larangan akan dikeluarkan kepada muslim. Termasuk yang pernah saya alami di tahun 2013. Ketika itu, saya ditolak masuk ke dalam Masjidil Al Aqsha karena mereka tidak membolehkan saya membawa tripod ke dalam. Setelah saya menitipkan tripod ke resepsionis hotel, saya kembali ke gerbang yang sama, untuk masuk ke Masjidil Al Aqsha.

Namun, mereka masih mencurigai saya, bahkan mereka sangsi bahwa saya adalah seorang muslim. Hingga mereka menyuruh saya membaca dua kalimat syahadat dan membaca Al Fatihah di depan mereka.

Ketika mendapatkan perlakuan seperti ini, saya mengerti mengapa sering terjadi bentrokan diantara pemuda muslim Palestina dengan Polisi Israel yang menjaga Masjidil Al Aqsha. Mereka-lah dengan kesewenangannya, menolak masuk pemuda muslim untuk beribadah di dalam Al Aqsha.

************************

Seperti yang telah dituliskan diatas, Masjidil Al Aqsha atau Baitul Maqdis adalah sebuah kompleks suci seluas 14,4 hektar. Kompleks suci ini, terletak di dalam Kota Tua Yerussalem atau The Old City of Jerussalem atau disebut juga Al Quds. Kota tua Yerussalem dikelilingi oleh tembok beserta menara menara. Ada sekitar 7 gerbang untuk masuk ke dalam kompleks ini, yang menjadi pembatas antara kota tua atau Al Quds dengan Kota Yerussalem Timur.

Diagaram Al Quds

Al Quds memiliki luas sekitar 9 kilometer persegi. Ada 4 zonasi di wilayah ini, yaitu wilayah Islam, Nasrani, Yahudi dan Armenia. Jika akses masuk menuju Masjidil Al Aqsha dijaga oleh polisi Israel (berseragam biru), gerbang Al Quds seluruhnya dijaga oleh tentara Israel (berseragam hijau). Tentara Israel penjaga Al Quds, ternyata tidak semua merupakan warga Israel. Ada beberapa diantara mereka yang berasal dari luar Israel, yang tertarik untuk menjadi penjaga Al Quds.

 

Akses masuk umat muslim ke dalam Al Quds biasanya melalui gerbang Herods dan Damascus. Karena di situlah kawasan zona muslim. Zona muslim terdiri atas kompleks Masjidil Al Aqsha, dan rumah serta toko milik penduduk muslim.

Di zona Nasrani, terdapat sebuah gereja tua yang bernama Church of The Holy Sepulchre. Di masjid inilah ‘Umar bin Khattab menerima kunci Al Quds dari pendeta Nasrani, ketika menaklukkan Al Aqsha. Dahulu ada sebuah salib besar yang berada persis di atas gerbang gereja ini. Pintu tersebut sangat pendek, sehingga semua orang yang melaluinya, harus menundukkan badan, seperti rukuk, yang menimbulkan kesan seperti menghormati salib besar yang ada diatasnya. Sehingga ketika Pendeta mengundang masuk, ‘Umar bin Khattab melangkahkan kaki sambil berjalan mundur. Karena beliau tidak ingin membungkuk ke arah Salib besar.

Church The Holy Sepulchre

Di depan Gereja Holy Sepulchre, terdapat masjid kecil yang bernama Masjid ‘Umar. Inilah masjid yang menjadi tempat shalat ‘Umar bin Khattab ketika menerima kunci kota Al Quds dari para Pendeta Nasrani. Keberadaan masjid ini, menggambarkan kebesaran Islam. Karena awalnya, pendeta Nasrani mempersilahkan ‘Umar bin Khatrab ra. untuk shalat di dalam Gereja Holy Sepulcre. Namun beliau menolak, karena khawatir jika di masa setelahnya, tentara muslimin akan menghancurkan gereja tersebut dengan alasan, di dalam gereja itulah beliau shalat.

Gereja Holy Sepulchure diyakini sebagai gereja tempat persemayaman Yesus setelah beliau disalib, menurut keyakinan Nasrani. Sehingga gereja ini, menjadi salah satu destinasi religi bagi seluruh umat Nasrani dari seluruh dunia.

Masih di dalam wilayah Nasrani, terdapat sebuah bukit yang bernama Bukit Zion. Dari sinilah gerakan Zionisme berasal. Zionisme adalah sebuah gerakan yang dicanangkan oleh seorang Yahudi bernama Theodore Herzl. Ia mencanangkan kepada seluruh umat Yahudi yang saat itu tersebar ke seluruh dunia, agar kembali ke Bukit Zion. Inilah tanah yang dijanjikan kepada Yahudi,yang merujuk pada kitab Taurat.

Gerakan zionisme menjadi massive semenjak meletus perang dunia kedua. Ketika ada ada pengungsian besar-besaran karena tindakan Hitler yang melakukan Holocaust (pembantaian umat Yahudi). Tercatat ada 4 kali gelombang besar, kedatangan umat Yahudi ke Bukit Zion yang berada di dalam Al Quds.

Jika menilik kondisi terkini, tak heran kiranya, jika penetepan Yerussalem sebagai ibukota Israel mendapat banyak tentangan, khususnya pemimpin dunia Islam. Karena menetapkan Yerussalem sebagai ibukota Israel berarti menyatakan bahwa Gerakan Zionisme telah mencapai puncak kejayaannya.

Gerbang yang menjadi tempat masuk ke zona Yahudi adalah Gerbang Dung atau Zion Gate. Di zona ini, terdapat sebuah sinagog yang diyakini pernah menjadi tempat berpijaknya Nabi Daud as. menurut kepercayaan umat Yahudi. Di zona itu juga terdapat patung Daud yang memegang harpa.

Patung Raja Daud

Jika ingin masuk menuju kawasan tembok ratapan, kita bisa masuk melalui Gerbang Dung atau Zion. Persis di depan gerbang tembok ratapan, terdapat replika Menorah yang berukuran besar.

Replika Menorah

Menorah adalah sebuah alat yang menjadi pelengkap altar dalam sinagog besar Yahudi yang bernama Haikal Sulaiman. Bangunan ini dulunya ada dan menjadi tempat peribadatan umat Yahudi, sebulum dihancurkan oleh Raja Nebukanedzar.

Rancangan Solomon Temple

Beredar teori konspirasi, bahwa salah satu tujuan Yahudi ingin menguasai Baitul Maqdis dan Al Quds, karena ingin menghancurkan dua masjid di dalamnya, yaitu Dome of The Rock atau Masjid As-Sakhra dan Masjid Jami’ Al Aqsha. Jika berhasil menghancurkan kedua masjid ini, umat Yahudi akan membangun kembali Haikal Sulaiman. Itulah cita-cita besar yang berusaha diwujudkan oleh umat Yahudi. Dan salah satu organisasi rahasia yang berusaha meraih cita-cita besar umat Yahudi tersebut adalah Freemason dan Illuminati.

Ada kepercayaan, bahwa semakin mendekati masa akhir zaman, umat Yahudi akan menghancurkan masjid di Masjidil Al Aqsha dan membangun Haikal Sulaiman, sembari menanti kedatangan Messiah. Ketika kekuatan mereka kuat, mereka yakin bahwa mereka-lah yang akan memenangkan perang akhir zaman. Dan modal besar gerakan ini, bisa jadi bermula ketika mereka mampu menguasai Al Quds dan membatasi gerak umat muslim yang ingin memakmurkan kompleks suci Al Aqsha.

Wallahu ‘alam bi shawab…

 

3 thoughts on “Mengenal Dome of The Rock, Baitul Maqdis dan Al Quds…”

    1. Semoga Allah berikan kemudahan dan kemampuan sehingga bisa berkunjung ke Baitul Maqdis, Al Quds dan melihat langsung Dome Of The Rock. Jika ingin berkunjung ke tempat suci ini, bisa melalui biro perjalanan, khususnya biro perjalanan haji dan umrah. Ada beberapa paket yang menggabungkan Ziarah ke Aqsha dengan umrah. ada juga yang menggabungkan Ziarah ke Aqsha dengan tour menuju kawasan Petra, Laut Mati dan Yordania.

      Untuk backpacker mungkin juga ada, jika anda bergabung dengan beberapa komunitas. Semoga Allah mudahkan. Barakallhu fikum

  1. My brother suggested I might like this blog. He was entirely right. This post truly made my day. You cann’t imagine simply how much time I had spent for this information! Thanks!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *