Masa Remaja Rasulullah SAW…

Ketika Muhammad SAW mencapai usia 12 tahun, paman beliau, Abu Thalib mengajak bersafar menuju Syam. Ketika tiba di daerah bernama Busra, rombongan Abu Thalib berhenti dan singgah sejenak. Di kota Busra, terdapat seorang pemuka agama Yahudi (Rahib) yang bernama Bahira.

Saat melihat rombongan Abu Thalib beristirahat dari perjalanan panjangnya, Bahira mempersilahkan Abu Thalib dan seluruh rombongannya masuk ke dalam tempat tinggalnya, dan menjamu serta menyediakan makanan untuk mereka. Para ulama berpendapat, Bahira memuliakan Abu Thalib dan rombongannya, karena mengetahui pertanda kenabian pada diri Muhammad SAW.

Sambil menggenggam tangan Muhammad SAW, Bahira berkata,

“Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Ketika mendengar perkataan ini, Abu Thalib bertanya kepada Bahira,

“Darimana kau tahu akan perkara ini ?”

Kemudian, Bahira menjawab,

“Sebenarnya, semenjak kalian tiba di Aqabah, tak ada bebatuan dan pepohonan pun melainkan mereka tunduk dan sujud. Mereka tidak sujud melainkan kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahui dari stempel nubuwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. Kami juga medapatkan tanda itu di dalam kitab kami.”

Setelah itu, Bahira Si Rahib, meminta kepada Abu Thalib agar kembali ke Mekkah. Karena Bahira takut akan gangguan dari bangsa Yahudi di Syam. Sehingga akhirnya Abu Thalib meminta beberapa pemuda yang turut serta dalam rombongan, untuk membawa Muhammad SAW kembali ke Mekkah.

************

Ibnu Hisyam menulskan, dalam kitab Sirah An Nabawiayah, ketika Muhammad SAW berusia 15 tahun, pecah perang Fijar. Peperangan ini melibatkan Kaum Quraisy dan Kinanah yang berhadapan dengan Bani Qais Ailan.Muhammad SAW mengikuti peperangan ini. Tugas utama beliau adalah mengumpulkan anak-anak panah bagi para paman beliau untuk dilempatkan kembali ke pihak musuh.

Peperangan ini berakhir setelah ada Hilful-Fudhul yang dilangsungkan di Bulan Dzulhijah. Dalam pertemuan ini diadakan kesepakatan, bahwa tidak akan ada satupun penduduk Makkah yang teraniaya. Barangsiapa yang berbuat dzalim kepada seorang penduduk Mekkah, maka Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Asad bin Uzza, Zuhrah bin Kilab dan Taimi bin Murrah akan berada di pihak orang yang teraniaya itu. Dan akan bersama-sama membalaskan perbuatan dzalim kepada pelakunya. Muhammad SAW juga hadir dalam perjanjian itu.

Kelak, ketika Allah telah menurunkan risalah kenabian kepada beliau, Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Aku pernah mengikuti perjanjian yang dikukuhkan di rumah Abdullah bin Jud’an, suatu perjanjian yang lebih disukai daripada keledai yang terbagus. Andaikata aku diundung pada perjanjian itu semasa Islam, tentu aku memenuhinya.”

Mubarakfurri berpendapat, inti dan ruh dari Hilful-Fudhul adalah sebuah perjanjian yang menghilangkan fanatisme atas kesukuan yang melekat kuat di kalangan Bani Quraisy.

Muhammad Al Ghazali berpendapat, di masa remajanya, Muhammad SAW tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun beliau bekerja sebagai penggembala kambing di kalangan Bani Sa’d dan di Mekkah. Dari pekerjaan ini, Muhammad SAW mendapatkan upah beberapa dinar.

Wallahu ‘alam bi shawab…

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

2 thoughts on “Masa Remaja Rasulullah SAW…”

    1. Kisah Masa Remaja Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam ini, kami tuliskan berdasarkan buku Siroh Nabawiyyah karangan Syeikh Al Mubarakfury. Di pasaran sudah ada beberapa buku terjemahan kitab tersebut. Barakallahu fikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *