Sepak Bola Kita…

Gelora Bung Karno, kembali menjadi sumber berita. Anehnya, yang ramai dibicarakan tak terkait dengan akhir laga yang tersaji di stadion. Protokoler dan dunia politik, ternyata yang menyebabkan saya tak banyak membaca berita ulasan pertandingan, di lini media sosial…

Tenang saja… tulisan ini, tak dibuat untuk membuat analisa baru terkait isu itu…

Sepak bola dan dunia politik bagaikan dua sisi mata uang. Mereka terikat, tapi berada di sisi yang seharusnya bertolak belakang. Masih segar dalam ingatan kita, PSSI mendapatkan sanksi dari FIFA gegara campur tangan pemerintah, ketika mengatur rumitnya dualisme kepemimpinan dan kepengurusan otoritas sepak bola tanah air.

Kalau dilihat dari data statistik, nampaknya peringkat timnas sepak bola Indonesia, linier dengan pertambahan jumlah penduduk. Di era 70-an, penduduk Indonesia berjumlah 114 juta jiwa, peringkat timnas ada di 35 dunia. Di era 90-an jumlah penduduk Indonesia di kisaran 180 juta jiwa (seperti yang didendangkan Rhoma Irama), dan peringkat timnas berada di posisi 100-an. Kini jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta jiwa, makanya peringkat timnas berada di posisi 160 dunia. Jika jumlah penduduk Indonesia mencapai 300 juta jiwa, mungkin timnas Indonesia berada di posisi 200-an dunia. Inilah maksud dari linieritas jumlah penduduk dengan rangking FIFA.

Sepak Bola memang menjadi olahraga terfavorit di negeri kita. Meski pada dasarnya, apa yang disajikan di dalam liga dalam negeri serta pencapaian timnas adalah sajian sampah. Rangking FIFA merupakan bukti betapa sepak bola Indonesia, berada di kubangan yang terdalam yang dipenuhi lumpur di dalam sumur kering angker.

Carut marut dan sengketa, ditambah tingkah polah para pemainnya, membuat sepak bola sering diberitakan oleh media. Sepak bola dalam negeri sumber dari idiom, “Bad News is a Good News”. Maka, salah satu profesi paling sulit di dunia, adalah pewarta dengan mahdzab Positive Journalism ketika mengulas sepak bola Indonesia, dalam 10 tahun terakhir.

Salah satu gambarannya, ada dalam tim kebanggaaan saya, Persebaya Surabaya. Saya mengikuti perkembangan tim ini hanya sampai gelaran Liga Indonesia tahun 2004, ketika Persebaya Juara Liga untuk kedua kalinya. Selepas itu, saya nyaris tak pernah membaca beritanya, terlebih ketika ada dua tim, Persebaya dan Persebaya 1927 yang berlaga di dua liga nasional. Saya bingung, sebenarnya Andik Vermansyah itu dibesarkan dari Persebaya yang mana ? Begitupula ketika Indra Syafri melihat bakat Evan Dimas Darmono, dia memandu dari tim junior Persebaya yang mana, saya juga ngga mudeng.

Syukur Alhamdulillah, Persebaya sekarang tinggal 1. Dan baru saya tonton lagi, saat dikalahkan PSMS Medan di Piala Presiden 2018. Secara permainan, lini belakang Persebaya sudah lumayan. Ada Otavio Dutra, pemain belakang tinggi besar, yang lugas mengamankan serangan dari pihak lawan. Cuman, sepertinya Bonek harus urunan, buat bayar pelatih penjaga gawang. Sepertinya kiper Persebaya baru kenal permainan sepak bola dalam hitungan bulan. Dimata saya, kalo kapten tim boleh mengkartu merah rekan setimnya, maka kiper adalah sasaran utama. Lebih baik tiada, daripada “ada tapi tidak berasa ada”.

Persebaya bisa menggambarkan bagaimana uniknya sepak bola Indonesia. Jika kita flash-back jauh ke belakang, Persebaya, PSMS Medan, Persija, PSIS Semarang, dan tim perserikatan lainnya, lahir sebelum kemerdekaan. Ada nuansa perjuangan dan pergerakan di balik berdirinya persatuan sepak bola, di kota-kota Hindia Belanda. Sepak Bola di masa penjajahan adalah dunianya orang Belanda. Klub sepak bola di masa itu, mirip dengan Golf Club di masa kini. Bal-balan, adalah dunianya kaum Eropa atau pribumi priyayi. Kesebelasan perserikatan hadir, untuk menyemaikan semangat perjuangan melawan pemerintah kolonial melalui sepak bola.

Meski pahit, harus kita akui, prestasi sepak bola Indonesia, justru lebih mendunia ketika masa kolonialisme. Indonesia, pernah berlaga di Piala Dunia 1938. Meski hanya sekali maen dan dihancurkan 6-0 oleh Hungaria, prestasi inilah yang terbaik milik bangsa kita di sepak bola. Nampaknya, hingga Presiden Indonesia ke 15, timnas belum akan sanggup berlaga di Piala Dunia. Kecuali, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia, sebelum 2040.

Sepak bola, sejatinya menggambarkan metode kita dalam bekerja dan bekerja sama. Sepak bola kita, menggambarkan, betapa susahnya membangun kebersamaan untuk meraih kemenangan bersama. Sepak bola, pada dasarnya adalah permainan mengalirkan bola. 11 pemain memiliki proporsi yang sama untuk menentukan akhir pertandingan.

Namun, publik di tanah air, memiliki mindset, sepak bola itu, bergantung pada kemampuan individu. Buktinya jelas, ketika Indonesia berstatus nyaris juara Piala AFF, selalu ada 1 pemain yang menjadi Dewa. Di 2004, di bawah asuhan Peter White, Boas Solossa menjadi penentu lebih dari 50% gaya permainan. Tak heran, ketika ia cedera di semifinal, Indonesia kalah dari Thailand di Partai Puncak. Di masa kini, nampak dari dominasi Egy Maulana Vikri, dalam timnas junior. Boleh dikata, hingga 5 tahun ke depan, nama Evan Dimas, Hansamu Yama, Egy Maulana serta Saddil Ramdhani masih mendominasi permainan timnas. Ketika mereka tidak bermain optimal, maka prestasi timnas bakal kedodoran.

Inilah sebuah fenomena yang membuat Indonesia, terbenam di peringkat 160 dunia…

Usaha memperbaiki prestasi, bukannya tidak pernah dilakukan. Salah satunya adalah menggelar kompetisi semiprofessional, Liga Sepak Bola Utama (GALATAMA) di tahun 1979. Dampak kompetisi ini terasa ketika timnas nyaris lolos ke putaran final Piala Dunia 1986-Meksiko. Jika mampu mengatasi perlawanan Korea Selatan, Bambang Nurdiansyah dkk., dipastikan satu kompetisi bersama Maradona. Sayang, timnas kalah aggregate 1-6. Inilah prestasi terbaik Indonesia, NYARIS LOLOS KE PIALA DUNIA.

GALATAMA menjadi liga semiprofessional yang menjadi sarana bagi para pemain bola berkompetisi secara professional. GALATAMA sempat menjadi liga yang sukses menarik minat penonton. Beberapa nama klub peserta GALATAMA adalah Niac Mitra Surabaya, Arseto Solo, Petrokimia Putra, hingga Pelita Jaya. Di era 80-an GALATAMA menjadi pioneer liga sepak bola semiprofessional di Asia. Sayang, karena isu suap dan atur-mengatur skor oleh Bandar judi, GALATAMA akhirnya hancur, dan dilebur dengan kompetisi Perserikatan di tahun 1994.

Liga Indonesia adalah leburan dua kompetisi. Klub-klub GALATAMA yang tersisa, semisal Mitra Surabaya, Pelita Jaya, Bandung Raya, Gelora Putra Dewata, Arema Malang, Asyyabaab Salim Grup, bergabung bersama Persebaya, Persija, PSIS Semarang, serta PSM Makassar. Liga Indonesia, diharapkan mampu menghasilkan pemain-pemain terbaik, di tengah tingginya biaya kompetisi. Liga Indonesia, menunjukkan bahwa, PSSI telah gagal mengelola kompetisi sepak bola semiprofessional. Klub GALATAMA ternyata tidak bisa mandiri menjalani kompetisi, tanpa perusahaan induk. Andaikan Bakrie Grup bukan Pemilik Pelita Jaya, hampir dipastikan kesebelasan tersebut sudah kehabisan nafas sebelum tahun 90-an.

Sebaliknya, kompetisi perserikatan, yang berisikan pemain-pemain amatir, justru sukses menggaet ribuan penonton datang ke stadion. Semangat membela kesebelasan daerah, membuat nama Persebaya, Persib, PSM, PSIS hingga Persipura moncer hingga ke tingkat nasional. Sepakbola amatir, yang mayoritas dikelola oleh Pemerintah Daerah, justru lebih diminati, dibandingkan GALATAMA.

Hal ini, yang menjadikan sepak bola menjadi salah satu media propaganda politik. Salah satunya, lagi-lagi menyimak perjalanan Persebaya Surabaya. Di Liga Indonesia ke 3, tahun 1997/1998 Persebaya Surabaya, berjuluk The Dream Team, alias tim impian. Persebaya diisi pemain top nasional, ditambah 3 trio pemain asing, Jacksen F. Thiago, Carlos De Mello, dan Justino Pierra. Di bawah asuhan alm. Rusdi Bahalwan, Persebaya membungkam Mastrans Bandung Raya 3-1 di Final yang digelar di Senayan.

Moncernya prestasi Persebaya, karena gaya kepemimpinan Walikota Surabaya saat itu, Soenarto Soemoprawiro (alm.) alias Cak Narto yang gila bola. Pria yang berasal dari Kampung Malang-Pandegiling ini, dengan kebijakannya, menjadikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai sponsor utama Persebaya. Dengan aliran dana yang nyaris tanpa batas, Persebaya, berhasil menggaet pemain-pemain top, seperti Erri Eriyanto (alm), Yusuf Ekodono, Chairil Anwar, serta trio Brasil. Mereka melengkapi potensi pemain binaan asli Persebaya, kiper Agus Murod, Libero “Bejo” Sugiantoro, Bek Kanan Anang Ma’ruf, Bek Kiri Aji Santoso (yang setahun sebelumnya didatangkan dari Arema Malang), serta Uston Nawawi sebagai gelandang.

Keterlibatan Gubernur atau Walikota, linier dengan prestasi tim. Liga Indonesia terus naik pamor, sehingga jumlah peserta di level teratas terus bertambah. Pemimpin daerah, akhirnya menjadikan sepak bola, sebagai media propaganda, agar wilayahnya dikenal di tingkat nasional. Persik Kediri, Persela Lamongan, Persiba Bantul, adalah contoh tim perserikatan milik pemerintah daerah yang cukup disegani di gelaran liga Indonesia. Prestasi mereka disokong kebijakan politik di level kabupaten atau kota.

Namun, banyaknya jumlah tim yang berlaga, tidak disokong dengan sistem pembinaan pemain berjenjang. Akibatnya, harga pemain lokal berbakat, menjadi amat mahal, untuk ukuran sepak bola Indonesia. Bambang Pamungkas, tercatat sebagai pemain dengan kontrak termahal di tanah air. Akibatnya, keran pemain asing dibuka lebar, agar seluruh tim mampu berkompetisi. Kuota pemain asing, yang awalnya 3 pemain menjadi 5.
Ini menyebabkan pemain muda sulit berkembang. Karena pengelola tim, yang mayoritas pemerintah daerah, ingin prestasi instan. Datangkan pemain asing 5 orang, ditambah bajak pemain dari tim lain 6 orang, sudah cukup untuk mengantongi gelar juara. Inilah cara terbaik untuk membeli prestasi.

Walikota/Bupati cukup mengerahkan dana APBD dengan persetujuan DPRD, maka gelar liga, bisa diraih oleh tim. Tak heran, jika akhirnya, tim sepak bola menguras dana APBD.

Akhirnya…

Kualitas liga, tergantung besaran dana dari pemimpin daerah. Dan lagi-lagi bisa dilihat dari prestasi Persebaya. Selepas 2004, prestasi Bajul Ijo turun drastis, karena Walikota setelah Cak Narto, bukan penggila bola. Tak heran, jika Persebaya menjadi tim yang pernah 2 kali terdegradasi.Kondisi yang dialami Persebaya, juga dialami tim perserikatan lainnya. Seretnya dana APBD mengancurkan pola permainan tim. Bahkan ada pemain asing yang meninggal dunia, karena tak sanggup membayar biaya hidup, karena gajinya ditunggak oleh manajemen.

Kondisi ini, membuat PSSI kembali bertekad menghadirkan Liga yang benar-benar professional. Dibentuklah perusahaan khusus yang mengelola liga, sebagaimana NBA di liga basket Amerika, atau Formula One Grup yang mengelola Balapan Mobil Formula 1. Peserta liga pun harus berbadan usaha. Sehingga era industrialisasi sepak bola akan digelar kembali.

Namun, sepak bola sebagai media propaganda, tetap tak akan berubah bentuk. Minimal, pemimpin negara dan pemerintahan akan hadir menyaksikan timnas bertanding. Kehadiran presiden, menteri, dan lembaga tinggi negara,di stadion menjadi bentuk sokongan moril bagi timnas yang bertanding membawa nama bangsa.

Sejatinya, kepemimpinan akan menemukan tantangan terbaik, ketika timnas terus menerus dilanda kekalahan. Pemimpin negara, diharapkan hadir, untuk tampil di depan, membesarkan hati pemain, dan merumuskan kebijakan yang menunjang perbaikan prestasi. Bukan semata mengucurkan bonus, menyambut ke Istana, ketika timnas berhasil melaju hingga gelaran akhir, bahkan juara.

Aroma propaganda, di ranah sepakbola, sangat menyengat di gelaran AFF 2010. Timnas terlalu dipuja, sehingga public dibuai akan gelar juara, yang akhirnya berakhir pahit. Begitupula dengan nasib timnas U-19 yang berhasil memenangkan Piala AFF junior di tahun 2013. Timnas yang berpotensi itu, diekspoitasi selepas juara, sehingga tampil antiklimaks di Piala Asia Junior, tahun 2014. Salah satu alasannya, adalah rentetan uji coba pra kompetisi yang sangat panjang, sehingga pemain kelelahan, serta strategi permainan terekspose oleh lawan dari pengamatan di layar kaca.

Pada akhirnya, untuk menghasilkan kualitas permainan timnas yang baik, sebaiknya kita berkaca pada negara-negara Afrika. Mereka, semakin setara kualitasnya dengan negara asal Eropa dan Amerika Selatan. Talenta Afrika, bisa membawa negaranya berprestasi di kompetisi dunia, karena bisa bermain regular di liga-liga Eropa. Langkah inilah yang mungkin bisa ditiru.

Kepala Negara dan/atau Kepala Pemerintahan bisa memerintahkan dan membuat kebijakan untuk mengundang pemandu bakat klub-klub besar Eropa. Promosi sepak bola Indonesia, bisa dilakukan seperti halnya pariwisata. Pemerintah dan negara, juga bisa mengarahkan agar Indonesia, sering menjadi  tuan rumah ajang pagelaran sepak bola di level Asia bahkan Dunia untuk kelompok umur dibawah 15 tahun. 

Sehingga para pemandu bakat, bisa melihat langsung, betapa kaki anak Indonesia, bisa ditumbuh dan dikembangkan menjadi sebuah organ yang menghasilkan prestasi, bukannya alat untuk mencederai sesama manusia…

Wallahu ‘alam bi shawab…

3 thoughts on “Sepak Bola Kita…”

    1. Pemerintah memiliki peranan yang besar. Memang FIFA melarang intervensi langsung Pemerintah dan Negara dalam urusan tekhnis sepak bola, termasuk liga. Namun, independensi FIFA dan seluruh anggotanya, bukannya tidak berbatas. Pemerintah, melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga, harusnya aktif melakukan pembinaan khususnya usia muda. KONI dan KOI bisa memberikan arahan kepada PSSI agar fokus pada usia muda. Bahkan pemerintah dengan kuasanya, bisa mengundang klub-klub Eropa, agar memantau pemain muda kita.

      Terbukti bahwa pemain muda kita bisa berprestasi. Meski bukan turnamen resmi FIFA, dalam ajang internasional yang diselenngarakan oleh perusahaan multinasional semacam Danone Cup, tim muda, yang mewakili Indonesia berhasil beberapakali meraih gelar juara. Pemerintah sendiri punya beberapa sekolah olahraga, semacam Sekolah Khusus Olahraga Ragunan, yang berhasil membina Eggy Maulana.

      Masalahnya, bagaimana memelihara dan meningkatkan skill, itu yang menjadi permasalahan kita sebagai sebuah bangsa, dari aspek persepakbolaan.

  1. What’s Taking place i am new to this, I stumbled upon this I have found It absolutely helpful and it has aided me out loads. I’m hoping to contribute & aid different customers like its helped me. Great job.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *