Tadabbur Suroh Al Ikhlas…

Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Ubar bin Ka’b, menerangkan bahwa orang musyrik, pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah SAW,

“Sebutkan nasab Tuhanmu kepada kami !”

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat,

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS. Al Ikhlas : 1-2).

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Rabb, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Karena tidak ada sesuatu yang terlahir melainkan ia akan mati dan tidak ada sesuatu yang mati, melainkan ia akan diwarisi, sedang Allah Azza Wa Jala tidak mati dan tidak diwarisi, serta tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, serta tidak ada yang sama dan tidak ada sesuatupun yang seperti Dia.” (HR. Hakim).

 “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa” (QS. Al Ikhlas :1)

Hamka, dalam tafsirnya menjelaskan, Ayat pertama dalam Suroh Al Ikhlas menjadi pokok dari aqidah, puncak dari kepercayaan. Mengakui bahwa yang diper-Tuhan-kan hanyalah Allah SWT saja. Dan Allah itu hanya bersifat tunggal, atau satu saja.

Tidak ada sesembahan lain, selain Dia. Dia Maha Esa, mutlak Esa, tidak bersekutu yang lain dengan Dia. Pengakuan atas Kesatuan, Keesaan, Tunggal-Nya Tuhan dan nama-Nya ialah Allah. Inilah sebuah kepercayaan yang disebut dengan tauhid.

Tauhid berarti menyusun pikiran yang suci murni, tulus, ikhlas, bahwa tidak mungkin Allah itu lebih dari satu. Sebab, pusat kepercayaan dalam pertimbangan akal yang sehat dan berpikir teraratur, hanya sampai kepada satu.

Tidak ada yang menyamai Allah, tidak ada yang menyerupai Allah, dan tidak ada teman hidup Allah. Sehingga mustahil jika Allah, Tuhan itu lebih dari satu, karena pasti semua kekuasan-Nya pasti akan terbagi-bagi, sehingga hilanglah sifat Maha Kuasa.

Bachtiar Nasir, dalam Tadabbur Al Qur’an menjelaskan, dalam ayat pertama dalam Suroh Al Ikhlas, merupakan penegasan, akan hakikat  Allah dengan sifat ahadiyyatul wujud, atau keesaan wujud. Artinya tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya, dan tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Segala maujud atau eksistensi yang lain, hanyalah berkembang atau muncul dari wujud yang hakiki itu.

Setiap kata “Qul” dalam Al Qur’an tak sekedar mengandung arti “katakana” tetapi juga “yakini”.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al Ikhlas : 2)

Abu Hurairah ra, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW berkata,

ash-Shamad berarti segala sesuatu memerlukan dan berkehendak kepada Allah, berlindung kepada Allah. Sedangkan Allah tidak membutuhkan perlindungan kepada siapapun.”

Husain bin Fadhal, mengartikan ash-Shamad sebagai “Allah berbuat, (seperti) apa yang Dia mau, dan menetapkan (segala sesuatu seperti) yang Dia kehendaki.”

Dalam ayat yang kedua, Bachtiar Nasir menjelaskan, segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Sehingga tidak ada suatu perkarapun yang dapat terlaksana kecuali dengan izin Allah ash-Shamad. Dia-lah satu-satunya yang dapat mengabulkan segala kebutuhan manusia. Dia-lah satu-satunya tanpa campur tangan pihak manapun, yang bisa memutuskan suatu perkara.

Apabila sebuah kebutuhan sudah sampai kepada Allah, maka pasti terkabul. Lalu, sebaliknya, apabila sebuah kebutuhan belum terkabul juga, maka berarti belum sampai kepada Allah. Masih ada yang kurang dalam doanya.

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,” (QS. Al Ikhlas : 3)

Tadabbur ayat ini adalah, penegasan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Dia tidak berubah-ubah dan menyesuaikan situasi dan kondisi. Sedangkan kelahiran adalah wujud setelah tadinya tiada. Sifat ini hanya menjadi milik seluruh makhluk dan mustahil bagi Al Khalik.

Hamka, dalam tafsirnya menjelaskan, mustahil Allah beranak, karena yang memerlukan anak hanyalah makhluk bernyawa yang menghendaki keturunan yang akan melanjutkan hidupnya. Karena adanya keturunan, berarti hidupnya bersambung ke masa depan. Sedangkan orang yang tidak beranak, akan mati, setelah ia meniggal dunia.

Allah tidak memerlukan anak, karena Allah merupakan Dzat yang hidup terus menerus, kekal dan tidak akan pernah mati. Allah sudah ada tanpa proses penciptaan, dan Allah tidak akan hilang karena proses kematian.

“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas : 4)

Hamka, dalam tafsirnya menjelaskan, Allah itu mutlak kuasa-Nya, tidak terbagi, tidak ada tandingannya. Pemahaman ini, hanya bisa diterima oleh hati yang tulus murni. Dan hanya orang yang berakal dan cerdas saja, yang mampu berpikir bahwa kuasa Allah itu mutlak.

Bachtiar Nasir menjelaskan, ketika mentadabburi ayat ini, kita akan memperoleh penjelasan bahwa sebutan Allah punya anak, sangat tidak pantas dan tidak logis.

Tidak ada yang sebanding dengan Allah SWT. Allah adalah satu-satunya Tuhan bagi seluruh alam semesta jagad raya. Bukan seperti keyakinan batil, sebagian orang, bahwa ada Tuhan Kebaikan, dan ada pula Tuhan Kejahatan, atau atau Tuhan Cahaya dan ada Tuhan Kegelapan yang keduanya berbeda.

Allah, tiada Tuhan selain Dia. Lalu mengapa manusia lebih suka menuruti nafsu daripada menuruti Allah ?

Wallahu’alam bi shawab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *