Meraup Untung dari Pertagas…

Setelah hangat pemberitaan mengenai divestasi saham PT. Freeport Indonesia, Jum’at 20 Juli 2018 lalu, ribuan pekerja PT.Pertamina yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina (FAPPB) melakukan demonstrasi di depan Gedung Kementerian BUMN.

Jika kita menganggap isu pencopotan Menteri BUMN dalam aksi tersebut, lebih kental unsur politiknya, maka kita tak usah membahasnya terlampau dalam. (Gue males ngomongin politik broooooo……..!!!!!!!!!!!)

Mari kita cermati, salah satu pangkal alasan, mengapa para pekerja BUMN Minyak itu berdemonstrasi, yaitu adanya perjanjian Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) yang dikeluarkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Inti dari CSPA ini adalah integrasi (pembelian saham) PT Pertagas oleh PGN dari PT Pertamina sebanyak 2.591.099 lembar saham dengan nilai sebesar Rp. 16.6 T.  CSPA ini ditandatangani pada tanggal 3 Juli 2018, oleh Pertamina, yang diwakili Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko, Gigih Prakoso dengan Direktur Utama PGN, Jobi Trianand.

Proses integrasi saham Pertagas oleh PGN ini, dilakukan dalam rangka pembentukan sebuah perusahaan induk (holding company) di bidang minyak dan gas (Holding Migas). Terbentuknya Holding Migas ini, tentunya dibutuhkan untuk membentuk sebuah perusahaan gas dalam negeri, berskala multinasional. Integrasi Pertagas kedalam PGN dipandang sebagai langkah untuk menggabungkan dua BUMN yang bergerak dalam industri yang sama, yaitu pengelolaan gas yang ada di perut bumi Indonesia dan belahan dunia lainnya.

Namun, ada yang perlu dicermati dari proses integrasi tersebut, terkait isu kepemilikan saham di PT. Pertagas dan PT. PGN, Tbk. Pertagas, adalah sebuah perusahaan yang dimiliki 100% oleh PT. Pertamina, sedangkan PGN merupakan sebuah perusahaan terbuka.

Setidaknya ada 12 perusahaan asing yang menguasai saham PGN. Jika dijumlahkan, total proporsi ke 12 saham perusahaan asing tersebut di PGN mencapai lebih dari 25%.

Maka, demo pekerja PT. Pertamina di Kementrian BUMN ada nuansa mempertahankan kepemilikan negara dalam Pertagas. Sebelum adanya CSPA, PT Pertagas 100% milik PT Pertamina, dan 100% saham PT Pertamina dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Jika akhirnya PT. Pertagas diintegrasikan dengan PGN, maka akan ada saham asing, yang akan ikut “menumpang” dalam struktur kepemilikan PT. Pertagas.

Apabila integrasi ini terjadi, maka dampaknya, dari sisi ekonomi, adalah pembagian keuntungan bersih, yang awalnya 100% masuk ke dalam kantong Pertamina selaku pemilik PT. Pertagas, menjadi sebagian “kecil”dipotong dan masuk ke kantong perusahaan asing.

Jadi secara kasat mata, keuntungan PT. Pertagas yang awalnya 100% “dinikmati” oleh Pertamina, akan berpindah ke 100% ke tangan PGN…. Padahal ada 25% lebih, saham PGN dimiliki asing…

Keuntungan PT. Pertagas ini, awalnya selalu menjadi tambahan “dana keuntungan Pertamina” yang akan masuk ke kas negara, dan terhitung sebagai bagian dari Penerimaan Negara dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) yang dirancang setiap tahunnya.

Namun, jika PT. Pertagas beralih kepemilikan ke PGN, setidaknya ada 12 perusahaan yang “kecipratan” untung. Diantaranya adalah Petroliam Nasional Berhad (Petronas) yang berbasis di Kuala Lumpur-Malaysia, BlackRock Investment Mgt – Index yang berbasis di San Fransisco-Amerika Serikat, dan Vanguard Grup yang berbasis di Philadelphia-Amerika Serikat. Petronas, Black Rock Investmen dan Vanguard adalah 3 perusahaan asing dengan kepemilikan saham terbesar di PGN, dengan proporsi masing-masing (secara berurutan per 22 Juli 2018) 1,81%, 1,66%, dan 1.52%.

Apakah hanya 3 perusahaan asing itu pemilik PGN ?

Tidak mas bro and mbak Sis…

Setidaknya masih ada 9 perusahaan asing, yang masuk dalam 20 pemilik saham terbesar di dalam PGN. Memang, 2 perusahaan pemilik saham mayoritas PGN adalah PT. Pertamina dan BPJS Ketenagakerjaan. PT. Pertamina memiliki 56.96% saham, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK)  punya 3.42% saham di PGN.

Kalau bicara pemilik mayoritas, memang PGN dimiliki secara mayoritas oleh Perusahaan Negara.

Tapi, sebatas mayoritas brooooooooo……

Andaikan saham PT Pertamina di PGN hanya 50.01%, ya masih disebut mayoritas…..

Tapi…

Bicara kepemilikan saham, kan ga cuman bicara mayoritas perusahaan ini milik lau atau gue….

Tapi…

Juga bicara sharing alias pembagian keuntungan kan…..

kalau…. PT. Pertagas masih 100% punya Indonesia, ya 100% keuntungan akan masuk ke Indonesia…  

kalau perusahaan itu 51% milik elu, 49% milik gue… ya 51% keuntungan hak lau…. 49% jadi bagian gue….

gitu lho logikanya….

Emang seberapa besar sih keuntungan PT. Pertagas dalam setahun…

Yuk kita cek laporan keuangan mereka di tahun 2017 ya….

Di laporan yang shahih itu (karena sudah diaudit oleh kantor akuntan), keuntungan bersih PT. Pertagas mencapai 142 Juta USD. Kalau kita pakai kurs “call center” (Rp. 14.041/USD) maka keuntungan PT. Pertagas yang menjadi hak Pertamina adalah sebesar Rp. 1.9 Trilyun.

Jadi logikanya….

Elu jual perusahaan dengan harga Rp. 16.6 T. Padahal, dalam setahun, perusahaan ini ngasih keuntungan Rp. 1.9T.

Kalau pakai logika sederhana… Andaikan keuntungan PT. Pertagas selama 9 tahun  secara rata-rata sama, yaitu sebesar Rp. 1.9T/tahun, maka selama 9 tahun keuntungannya bisa menembus Rp. 17.9 T lho….

Jadi lu jual sekarang…. langsung dapat duit Rp. 16.6T…. Meski prospek ke depannya, kalau perusahaan itu tetep milik lau selama 9 tahun… akan bisa menghasilkan total keuntungan sebesar Rp. 17.9T….

Padahal namanya perusahaan, nggak semata menghasilkan keuntungan, juga ada penambahan aset dan penguasaan pasar.

Plus, karena PT. Pertagas ini milik BUMN ada Value “Kepemilikan Negara atau Kepemilikan Nasional”.

Sebenarnya, siapakah yang diuntungkan dari kepemilikan BUMN dan uang labanya ?????

Ya kita bro sepanjang kita masih berkewarganegaraan Indonesia…. termasuk saya, istri saya, Nazhiif dan Nafiis (kedua anak saya)….

Ketika PT. Pertagas jatuh ke tangan PGN, siapakah yang akan dapat keuntungan hasil kerja perusahaan itu ?????

Pertamina masih dapat bro…. karena PT. Pertamina juga pemilik PGN….

BPJS TK juga kecipratan keutungannya…. karena ia juga punya saham….

Selainnya… Ya pemilik 12 (bisa lebih) perusahaan asing yang menguasai lebih dari 25% saham PGN….

Jadi… apakah langkah PT. Pertamina menjual PT. Pertagas dianggap untung atau rugi ????

Jawab sendiri ya…. (Tapi jangan pakai logika ini buat alasan #2019GantiP* ya….Kan dah sepakat… Nggak ngomongin politik…..!!!!!)

Intinya sih….

Kalau saham PT. Pertagas jatuh ke tangan PGN, maka kita sebagai bangsa, sesungguhnya telah menjalankan “misi mulia sebagai manusia”. Karena kita ngga egois…

Perusahaan sehat dengan kinerja keuangan yang baik, ga boleh hanya Pertamina dan “Indonesia” saja yang menikmati….

Kita harus berbagi hasil keuntungan usaha PT. Pertagas… ke banyak bangsa bro…. 

Siapakah mereka….???

Ya Bangsa-Bangsa yang memiliki Petronas, BlackRock Investment Mgt – Index dan Vanguard Grup serta lebih dari 10 perusahaan asing lainnya….

Inilah filosofi “Tangan diatas” yang (menurut gue) sedang diupayakan dan/atau dilakukan oleh pemerintah….

Kita akan mencoba memberikan keuntungan kepada “orang lain” alih-alih hanya mementingkan dan egosentris cuman mikirin“hajat rakyat Indonesia”….

Wallahu álam bi shawab….

 

Note :

Jangan kaitkan dan/atau tautkan artikel ini dengan gerakan politik ya….. Ini murni masalah bisnis dan ekonomi sebatas yang saya pahami….

Saya ndak ikhlas kalau hasil risetan ini dipakai buat gerakan politik praktis… Kalau mau berpolitik silahkan… tapi riset sendiri ya….  Jazakumullah khayran katsiran…

 

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

1 thought on “Meraup Untung dari Pertagas…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *