Menanti Datangnya Isa Alaihissalam…

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu (ra.), salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad Shalllalahu Alaihi Wassalam (SAW), merupakan orang yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dan diantara ribuan hadits yang beliau riwayatkan, adalah sebuah sabda Rasulullah SAW, yang akan menceritakan kedatangan Nabi Isa Alaihissalam di masa akhir zaman.

Abu Hurairah ra. meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Tiada seorang nabi pun antara diriku dan dia –yakni Isa- sesunnguhnya dia pasti turun. Apabila kalian melihatnya maka kenalilah dia. Dia itu seorang pria yang semampai (tidak tinggi dan tidak pendek), berwarna kulit antara merah dan putih, memakai dua helai (lapis) kain baju, seolah-olah kepalanya meneteskan air walau tidak dibasahi oleh apapun. Dia memerangi manusia atas dasar Islam. Dia menghancurkan salib, membunuh babi, dan meletakkan jizyah. Allah membinasakan pada zamannya semua agama yang ada kecuali Islam. Al-Masih Isa juga membinasakan Dajjal, lalu tinggal di bumi selama 40 tahun. Akhirnya dia wafat dan jenazahnya dishalatkan oleh kaum muslimin.”

Berdasarkan hadits tersebut diatas, maka para ulama menyimpulkan, kehidupan dunia di masa Nabi Isa as. akan kembali dipenuhi keberkahan. Kelapangan dan kemakmuran tersebut seperti kondisi bumi, sebelum Nabi Adam as. berbuat dosa. Penggambaran kondisi bumi di masa kehidupan Nabi Isa as.,salah satunya nampak dari tumbuhnya buah anggur, yang bisa mengenyangkan manusia walau hanya memakan setandan. Selain itu, akan ada masa, sebuah delima bisa dinikmati oleh banyak orang.

Tidak ada lagi daerah tandus dan kering kerontang, justru sebaliknya, setiap jengkal tanah di bumi subur dan bisa digunakan untuk bercocok tanam. Maka, salah satu dampaknya, banyak orang membutuhkan sapi jantan, untuk membantu berkebun.

Dr. Muhammad Ahmad Al Mubayyad berpendapat, bumi menjadi penuh keberkahan karena seluruh penghuninya beriman kepada ke-Esa-an Allah SWT. Artinya, jika saat ini, sering terjadi bencana alam, salah satu penyebabnya adalah merebaknya kemaksiatan, sebagaimana  Firman Allah SWT,

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar (QS. Ar Rum : 41)

Peradaban di masa Isa as. menjadi yang terbaik dari yang terbaik, “crème de la crème” karena keshalihan itu, tidak bersifat individual atau komunal. Keshalehan di masa Isa as. merata dan menyeluruh atas seluruh manusia yang hidup diatas muka bumi.

Kondisi umat manusia yang berada di dalam puncak ketakwaan ini, tidak pernah terjadi, kecuali beberapa saat, setelah terjadinya banjir bandang, yang menghanyutkan dan membinasakan sebagian besar umat Nabi Nuh as. Pembersihan bumi, dari bangkai dan jasad makhluk yang buruk, hampir mirip dengan peristiwa pasca banjir bandang yang menimpa sebagian besar umat Nabi Nuh as. Seba’da bumi bersih dari makhluk yang hina, maka Allah akan menurunkan keberkahan kemakmuran diatas bumi. Subhanallah…

Kapan kita akan melihat kondisi negeri yang diberkahi, “baldatun thayyibah” ?

Tidak lain, ketika Isa as. diturunkan Allah dan memimpin umat manusia.

Allah SWT berfirman,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf :96)

Dr. Muhammad Ahmad Al Mubayyad, dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedi Akhir Zaman menjelaskan, Nabi Isa as., akan tinggal di bumi selama 40 tahun. Kondisi manusia di masa itu, bagaikan kehidupan di surga yang tidak kekal. Namun kondisi penuh keberkahan ini relatif singkat, berkisar 7 tahun. Setelah itu, maksiat dan kebodohan mulai muncul kembali. Kondisi bumi, berangsur mengalami kehancuran, menjelang wafatnya Nabi Isa as.

Sebelum meninggal dunia, Nabi Isa as. akan menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebagaimana penuturan sahabat Abu Hurairah ra. Beliau berkata, bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Demi Dzat Yang Jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh Isa ibnu Maryam akan berihlal (berniat untuk memulai ihram) di Fajj Rauha’, untuk berhaji, atau berumrah, atau melakukan kedua ibadah itu sekaligus (haji Qiran).” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, dijelaskan bahwa Nabi Isa as. berniat ihram di sebuah daerah bernama Fajj Rauha’. Para ulama berpendapat, Fajj Rauha’ merupakan sebuah daerah di antara Mekkah dan Madinah. Nabi Muhammad SAW, pernah menunjukkan letak Fajj Rauha’ kepada para sahabat beliau, ketika berangkat menuju Perang Badr, dan dalam perjalanan dari Madinah untuk menaklukkan kota Mekkah (Fathu Mekah). Para sahabat juga mengenali letak Fajj Rauha’ ketika mendampingi Nabi Muhammad SAW. melaksanakan haji wada’.

Sebelum meninggal dunia, Nabi Isa as. juga akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita, yang memiliki hubungan nasab dengan Nabi Syu’aib as. Wanita yang dinikahi oleh Nabi Isa as. berasal dari kalangan kabilah Judzam.

Para ulama meyakini, lokasi makam Nabi Isa as berada di area Raudhah yang saat ini, termasuk dalam bagian Masjid Nabawi, di Madinah. Sehingga makam Nabi Isa as., akan bersebelahan dengan makam Rasulullah SAW, serta Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra.

Wallahu ‘alam bi shawab…

Author: Rizky Meirawan

Rizky Meirawan, adalah seorang pekerja media di salah satu stasiun televisi nasional, sekaligus pengajar di sebuah sekolah tinggi kesehatan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di waktu senggangnya, Rizky Meirawan, aktif menulis di media sosial dan internet untuk berbagi wawasan dan pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *